Post Potty Training Saga.

The Potty Training Saga is going to end.

Setelah perjuangan panjang mengalahkan gag reflect, temper tantrum dan sebagainya, akhirnya Tara sudah mulai bisa mengenali dan mengedalikan dorongan untuk buang air kecil dan besar. Tidak ada lagi adegan bersembunyi di bawah kursi untuk buang air besar, atau protes tidak mau pakai baju di jam 4 pagi karena baju favoritnya sudah basah akibat ngompol. Setiap kali ingin buang air kecil dan buang air besar, Tara bisa memberi tahu saya, Nin, Om Yoyok atau siapa pun orang dewasa yang dia kenal dan merasa nyaman, untuk kemudian melakukannya di tempat yang disediakan.

Yay! Kami berhasil! Senang sekali!

Maka saya pun harus membelikan Lego bertema Sophia The First, seperti yang sudah saya janjikan jauh hari akan saya berikan, kalau Tara tidak lagi ngompol dan bisa mengenali dorongan untuk buang airnya. Reward! Seingat saya ini penting.

20150819_170833

Well, seperti yang saya duga, selesainya satu persoalan, akan timbul permasalahan lain, yang harus senantiasa berani kita jawab dan rampungkan sehingga kita bisa naik kelas lagi.

Lulusnya Tara dari potty training, sebenarnya membuat permasalahan baru untuk saya. Hari ini saya ke mall bersama dengan Tara. Jika biasanya jika Tara merasa ingin buang air, dia lakukan saja hal tersebut di diapernya, tapi hari ini beda, dia dengan tegas berkata, “Bapak, mau pipis!”

Sungguh saya bingung karena belum pernah saya melayani Tara pipis di tempat umum, tapi sungguh saya hargai prestasinya itu dengan bergegas membawanya ke toilet.

Sampai di toilet, galaulah tiba-tiba saya ini.

Path 2015-05-29 2226

Buang air kecil adalah satu hal, tapi membersihkan dan memakaikan pakaian adalah hal yang lain.

“Assss…pokoknya yang penting kebutuhannya Tara dulu…yang lain-lain dipikir nanti,” begitu kata saya dalam hati.

Sukses Tara pipis di toilet.

Saya tahu ini sedikit ngawur, tapi saya terpaksa membersihkan Tara di wastafel, lalu memakaikan kembali pakaiannya di luar toilet, karena terus terang agak risih juga mengurus balita perempuan di toilet laki-laki. Apalagi baca ini itu di internet yang membuat saya, sebagai anggota masyarakat ini menjadi paranoid dan semakin paranoid saja dari hari ke hari.

Tadinya saya mau masuk ke nursery room, tapi kok tampaknya peruntukannya untuk ibu hamil dan menyusui. Saya tidak mungkin masuk secara sembarangan ke zona ini. Bisa dikeroyok bapak-bapak Mall se-Jakarta Raya.

Baru setelah selesai saya membersihkan Tara dan mendandaninya kembali, terpikir, mengapa tidak membawa tissue basah ke toilet sehinga tidak perlu ke wastafel. Tissue basah! Damn, why don’t I think of something so simple?

Well, I learned something, lah. Next time I’ll be better.

Anyway, Saya betul-betul butuh masukan lho ini, bagaimana harus berhadapan dengan fasilitas pengurusan balita di Mall yang sering tak ramah pada lelaki itu. Atau mungkin ada yang berminat untuk nyerateni Tara setiap kali mau buang air di Mall? #woy #eaa #asmbuh

Path 2015-07-12 2122

Thanks!

Iklan

4 pemikiran pada “Post Potty Training Saga.

  1. Iya betul komen Mbak Nena, masuk toilet difabel atau ke mal yang ada kids toiletnya aja mas. Tapi ini masukan yang harus diperhatikan pengelola juga ya, bahwa urusan anak bukan melulu urusan ibu. Harus ramah ayah juga 🙂 Good luck!

    Btw, tisu basah itu penting bangeeeet!!

    1. Maksudku ya itu mbak…yg ngurusin anaknya kan ga cuman ibu2…bapak2 juga…apalagi stlh tau bahwa kadar kegantengan meningkat sktr 34.75% kalo lg nggandeng anak di mall…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s