Fashion, Passion, Patience

Jadi akhir-akhir ini, Tara sedang sangat sadar fashion. Dia tiba-tiba menjadi sangat selektif dengan baju yang ia kenakan. Baju tidur tidak boleh dipakai di pagi hari, baju rumah untuk siang hari tidak mau digunakan untuk tidur, baju pergi tidak boleh dikenakan di rumah, bahkan diapers pun harus sesuai dengan apa yang dia inginkan, yang tidak selalu jelas disampaikan, karena keterbatasan verbalnya.

Sebenarnya, menurut saya, seleranya cukup bagus, menurut saya lah at least, dan dari sekian ratus potong bajunya (agak hiperbola) biasanya pilihan Tara cukup matching. Terlepas dari sebagian besar barang-barangnya berwarna pink dalam berbagai macam kadar. Sewaktu memilih baju, Tara juga seakan-akan sungguh-sungguh devoted. Seakan-akan, fashion adalah sebuah passion yang sudah dikenali sejak bayi.

2015-07-10 11.24.14 2015-07-18 10.17.26 2015-07-20 16.20.41

2015-07-25 11.44.51 2015-07-09 09.07.05 2015-06-28 10.25.40

Note: semua baju yang dipakai Tara adalah hasil pilihan dan padu padannya sendiri.

Hanya seringkali mengetes patience orang-orang di sekitarnya adalah keterbatasan kemampuan verbal, berkombinasi dengan sifat keras kepala dan perfeksionisnya, dan bertemu serasi dengan temper tantrum.

PERFECTO!

Kalau Tara sudah bilang dia mau pakai baju monkey (baju bergambar monyet kartun) untuk tidur, dengan padanan celana tiger pink (celana bermotif macan tutul pink), dan diaper Mickey Mouse, dengan celana dalam bear dan kaos kaki garis-garis pink, akan dibutuhkan energi yang satuan joule-nya sama dengan yang dibutuhkan untuk mendorong Land Cruiser mogok sejauh 200 meter, untuk mencoba mengubah pendiriannya.

Suatu waktu bahkan pernah Tara sama sekali menolak untuk dipakaikan baju, karena yang baju yang dia mau belum selesai dicuci, yang karena terjadi di jam 3 pagi, berakhir dengan tertidur kembali di pangkuan saya, dengan keadaan tidak berbaju. Akhirnya, setelah tidur, saya bungkus dia dengan selimut tebal supaya tidak masuk angin. Saat itu sungguh saya belum memahami pola pikirnya. Untunglah semakin ke sini, saya semakin paham mengenai pola pikir Tara.

Anak saya ini metodis. Bahwa setelah A, itu B, lalu C, kemudian D adalah mutlak dan tidak bisa tergoyahkan, maka baju tidur itu hanya dipakai untuk tidur, dan baju pergi itu hanya untuk pergi. Bahwa saat mandi pagi itu boleh nyemplung di ember, dan saat mandi sore itu hanya boleh sikat gigi. Bahwa hanya dia yang boleh menyalakan keran dan membuka kunci kamar mandi, jika ada yang melakukan hal itu selain dia maka keseluruhan proses harus diulang dari awal, dan seterusnya.

Video ini mungkin bisa mewakili, betapa Tara menikmati keteraturan dan urutan kronologis.

Di saat yang bersamaan, tampaknya Tara juga sudah mulai paham bahwa ada kondisi-kondisi tertentu yang membuatnya tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Jika celananya belum selesai dicuci, maka dia harus memilih celana lain yang sesuai dengan tema dan pakem fashionnya. Saya menghormati kategorisasi yang dia buat, dan dia belajar untuk berkompromi dengan keadaan. Good Deal!

Well, I always thought that fashion is some’s passion, but for the others, it requires patience. Istri saya dulu bisa menghabiskan setengah hari penuh untuk berbelanja di Mangga Dua, menyambangi satu toko di satu pojokan, menawar sebuah barang habis-habisan, ditinggalkan untuk melihat barang yang sama di ujung yang lain, menawar hingga mulut berbusa hanya untuk membeli barang yang pertama dia tawar. Buat saya itu butuh kesabaran. But looks like I ain’t seen nothing yet, and Tara showed me how fashion requires more patience than I’d ever imagined before.

I learn, you learn, Baby Girl!

2015-07-15 17.28.18

Iklan

6 pemikiran pada “Fashion, Passion, Patience

  1. Bagus dong mas, Tara udah bisa milih2 baju, biar lama2 bapaknya ga puyeng kebanyakan liat pink 😂😂 meski kadang emang jengkelin, kita lg buru2, eh anaknya ngadat karena baju yg dipake ga sesuai dg yg dia mau, tapi lupa kalo kemandirian yg udah mulai dr awal ini musti dipupuk

  2. Hitu dia mbak…saya sih sbnrnya senang, Tara sudah bisa memilih sendiri dan tahu apa yang dia mau…tp kan ga selalu waktu dan sabarnya longgar… :))

  3. Coba sekalian dilatih Mas, suruh Tara pikirin baju apa yang dia mau pake 2 hari ke depan (pagi, siang, malem) dan lama-lama untuk seminggu. Nanti pas gede, buat ke kantor, dia udah ga pusing gradak-gruduk lagi kayak kebanyakan perempuan pada umumnya yang buka lemari dan bingung, “I have nothing to wear!” (padahal bajunya buanyakkk banget di lemari). Keep it up Tara!

    1. Ini harus berhadapan sama patience sih, ya San… hahaha,,,

      atau biarkan saja dia mencintai dunia fashion ini dan didukung saja habis2an…siapa tau bisa jadi fashion blogger di usia dini, jadi bapaknya bisa ikut jalan-jalan ke Paris Fashion Week segera… #ngarep

  4. Masgas.. Ak jd inget. Kayaknya di rmh ak msh simpan bbrp pernak-pernik zman ak bayi. Sisa2 perjuangan ibuku mendandaniku dgn harapan anaknya jd perempuan tulen, walopun akhrnya menyerah 😂 ak mau kasi tara ah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s