Melompatlah Jauh Lebih Tinggi

Seorang teman, Mbak Lita, dalam sebuah tulisan di dalam blognya, menceritakan betapa dia tidak pernah menggunakan bahasa bayi saat berkomunikasi dengan Langit, anaknya. Saya pernah bertemu dengan Langit satu kali dan menurut saya kemampuan komunikasinya cukup luar biasa, dan saat berkombinasi dengan tingkat percaya dirinya yang tinggi, Langit menjadi sangat menyenangkan dan unik di saat yang bersamaan.

Berbahasa bayi itu memang terlihat dan terdengar cute, sakit” jadi “atit”, “takut” jadi “atut”, “strawberry” jadi “tobeli”, “susu” jadi “cucu”, “pergi” jadi “egi”, dan seterusnya lah, jika diucapkan oleh seseorang yang berpenampilan sangar seperti saya ini pun, bisa mengubah image yang mirip beruang grizzly menjadi beruang teddy. Tapi ternyata hal ini tidak terlalu membantu si anak meningkatkan kemampuannya berkomunikasi. Dibaca saja lah ini, tulisannya Mbak Lita yang yahud ini: Say What You Wanna Say.

Well I have to super agree on that! Saya dan semua orang di rumah, tidak pernah mencoba untuk menurunkan level kemampuan komunikasi kami saat berinteraksi dengan anak-anak. Alhasil, memang Tara dan Tantra punya kemampuan komunikasi yang termasuk cukup baik, kalau tidak bisa dibilang di atas rata-rata. Tanya kepada mereka, Koala makannya apa, dan jawaban yang akan keluar dari mereka adalah EUCALYPTUS, tanya kepada mereka pohon makannya gimana, dan jawaban dari mereka pasti FOTOSINTESIS. Kami ajari melompat jauh lebih tinggi dari yang selama ini kita anggap ambang batas kemampuan mereka, ternyata mereka bisa.

10857773_10152538210403873_3640405926291272511_n

Kemudian jadi timbul pertanyaan:

Bagaimana konsepsi dan pola ini dipraktekkan tidak hanya dalam hal level kemampuan komunikasi, tapi juga dalam hal berlogika atau bidang-bidang lainnya?

Mungkinkah kita selama ini menyepelekan dan meremehkan kemampuan anak-anak karena berkaca terhadap kemampuan kita sendiri?

Saat ini yang sudah berada di tahap bisa memformulasikan pertanyaan yang aneh-aneh adalah Tantra, maka saya akan lebih bercerita mengenai Tantra, sepupu Tara.

Saat saya menjelaskan mengenai fotosintesis kepada Tantra, bahwa pohon itu menyedot air dari bawah tanah dan membawanya ke daun, ia langsung berkata, “Oh kaya jet pump ya, Pakde?” Memang saya pernah menceritakan mengenai cara kerja jet pump sebelumnya, dan pada saat itu saya cuma iseng, karena Tantra bertanya, sementara saya punya banyak waktu luang untuk sekadar bercerita detail lengkap dengan bagan dan gambar, bagaimana cara kerja jet pump. Saya tidak menyangka Tantra menangkapnya dan bisa membuat perbandingan dengan sempurna, antara pohon dengan jet pump.

11094929_10152821624343873_931544191696590811_n

Kita kadang-kadang membuat batasan-batasan untuk anak-anak kita, karena berasumsi. Berasumsi bahwa level komunikasi mereka belum sampai tahap itu, berasumsi bahwa mereka belum mengerti, berasumsi bahwa suatu hal terlalu rumit untuk dipahami, berasumsi bahwa mereka tidak bisa ini, mereka tidak bisa itu.

Benarkah?

Bagaimana kalau sebenarnya kemampuan anak-anak kita tidak seperti yang kita asumsikan? Bagaimana kalau jauh di atasnya sedangkan asumsi-asumsi kita ini justru kemudian membatasi potensi-potensi mereka? Tidak hanya potensi logika seperti pada Tantra, tapi juga fisik, geometris, matematis, bahasa, dan sebagainya.

Seringkali, kala melihat anak-anak yang melakukan hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya, reaksi orang tua adalah memperingatkan. Saat melihat untuk pertama kalinya, anak-anak dengan nekat memanjat perosotan atau monkey ladder di taman, reaksi spontan orang tua biasanya adalah “Awas! hati-hati, nanti kamu jatuh!!!” Bukan tidak mungkin, peringatan ini, justru merupakan penghambat si anak yang sebenarnya tidak ketakutan sama sekali sebelumnya. Mengubah dari berani karena tidak tahu, menjadi ragu-ragu.

Mungkin lebih baik alih-alih memperingatkan, kita jaga dan tunjukkan saja cara yang aman untuk melakukan sesuatu. Jika si anak jatuh, mungkin memang mereka butuh jatuh untuk belajar. Mereka sembuh dengan cepat kok.

Things that don’t kill can only make you stronger.

Saya mengimani kata-kata itu. Saya berkeyakinan, sesungguhnya semua orang di dunia ini adalah makhluk Saiyan seperti dalam komik Dragon Ball Z yang setiap kali sembuh dari luka-luka parah hasil pertempuran, power levelnya akan bertambah drastis, kecuali dia mati. Setiap kali ada saat sulit dalam hidup saya, kata-kata itu mengingatkan, bahwa setelah ini semua selesai, kekuatan saya dalam menjalani hidup akan bertambah.

Hal ini mungkin berlaku juga untuk anak-anak. Bagaimana kalau kita berhenti berasumsi dan membatasi? Bantu saja mereka jika tidak bisa melakukan sesuatu. Biarkan mereka jatuh, biarkan mereka terantuk, biarkan mereka terluka, karena dari luka mereka menjadi lebih kuat dari waktu ke waktu.

***

Adik saya sempat bingung mengenai jawaban apa yang harus diberikan kepada Tantra mengenai pengertian frase “sekarang dan waktu kami mati…” di doa Salam Maria yang diucapkannya setiap malam. Sebelumnya saya cukup setuju jika mereka belum waktunya diperkenalkan pada konsep kematian, tapi setelah berpikir kembali, mungkin itu berarti saya membatasi mereka. Mungkin seharusnya dijelaskan saja mengenai konsep kehidupan dan kematian seseuai dengan apa yang kita ketahui kepada mereka. Tanpa metafora dan eufemisme.

Agak serba salah sih mengenai hal ini.

Tara mengerti bahwa ibunya tidak akan bisa menggendong dia lagi, tapi ia mengenal kondisi ibunya sebagai “bobo” atau tidur, bukan meninggal. Beruntung sekarang Tara tidak terlalu banyak bertanya mengenai ibunya, tapi suatu hari nanti ia bertanya, akan saya jawab seadanya, sesuai dengan pemahaman saya tentang hidup. Biar dia sendiri yang mencerna.

Anyway, usaha menyamarkan dan menghaluskan konsep kematian ini sering menghasilkan beberapa pemahaman lucu di benak anak-anak.

Tantra diberi tahu, bahwa “waktu kami mati…” itu adalah saat kita bertemu dengan Tuhan, maka Tantra menyimpulkan, “Ooo kaya kalau kita ke gereja itu ya…” Sementara, salah seorang keponakan saya, saat Mbah Kakungnya wafat sempat bertanya, “Mbah Kakung ke mana?” lalu dijawab “Ke surga…” oleh ibunya. Sesampainya di kuburan, tempat di mana Mbahnya dikuburkan, keponakan saya itu mengkonfirmasi, “Ini Surga ya?”

Saya yakin banyak contoh lain yang tidak kalah lucu dari anak-anak di sekitar kita jika berhadapan dengan penjelasan tentang suatu hal yang emosional atau terlalu abstrak untuk dijelaskan.

Jadi kesimpulannya untuk saya adalah:

Sesungguhnya saya tidak tahu mengenai batasan potensi dan kemampuan anak-anak di sekitar saya, oleh karena itu saya akan berhenti berasumsi mengenai itu. Saya akan mempersilakan mereka bereksplorasi dan mencoba dunia ini seturut keinginan mereka. Saat mereka bertanya mengenai suatu hal, saya akan memberi jawaban yang sama dengan yang akan saya berikan kepada orang dewasa, dan membiarkan mereka memproses jawaban itu sendiri.

Maka saat Tantra bertanya, “Cara kerja matahari itu gimana?”, kami coba jelaskan sejauh yang kami tahu mengenai Big Bang Theory, terbentuknya alam semesta ini yang membentuk matahari, tata surya beserta planet-planet yang ada di dalamnya, dan pergerakan perputaran bumi dan planet-planet. Tantra tampak tidak mendengarkan, tapi ternyata beberapa kali mengulangi penjelasan mengenai 9 planet yang berputar mengitari matahari dengan gerakan tangannya.

Melompatlah jauh lebih tinggi dari yang kami bayangkan!

10432939_10152890208293873_5192087869701350768_n

PS: Ini obrolan epic antara Tantra dengan Neneknya:

Tantra: “Ini LODA nya mutel…”
Nin Ami: “RODA!”
Tantra: “Loda…”
Nin Ami: “RRRRRRODA!”
Tantra: “Lllllloooodaa…”
Nin Ami: “RRRRRRRRROOOOODDAAAA…”
Tantra: “Ban!”

Iklan

5 pemikiran pada “Melompatlah Jauh Lebih Tinggi

      1. Lha ada gendruwonya po mas? 😱
        Blogku difollow, asik asik! Etapiii… Yg aktif yg ini mas: kurakurangkasa.wordpress.com. tlg difollow yg ini aja ya mas 😂✌

  1. wah bener Gas…beberapa kali aku punya pemikiran yang sama kalo ngeliat temen-temenku masih berbahasa “bayi” ketika berbicara dengan anak-anak mereka yang harusnya sih udah bisa ngomong lancar. aku lebih milih ngobrol dengan anak kecil seperti aku ngobrol dengan teman sebaya.dan terbukti mereka ngerti dengan apa yang aku bicarakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s