Ditilang

Beberapa hari ini sedang banyak saya temui di social media, meme ini:

POLISI_MEME

Well, not exactly “this” meme, sih. Tapi kontennya seperti itu kira-kira. Gambar polisi yang sedang melakukan razia lalu lintas diberi caption: “Setiap kali melihatnya, hati deg-degan. Inikah namanya Cinta?”

Pas banget! Tadi malam saya baru saja ditilang.

***

Plat nomor saya mati bulan April lalu, dan saya masih nekat membawanya ke jalanan. Saya memang salah, dan alhasil tadi malam saya dihentikan polisi bermotor putih besar dengan rompi warna hijau stabilo,

“Selamat malam, Pak,” kata Polisi yang berpostur tinggi besar dengan berat terakumulasi di bagian perut dan sekitarnya.

“Malam, Pak,” balas saya.

“Bapak tahu salahnya apa?” tanyanya penuh wibawa.

“Tahu Pak, plat nomor saya mati,” jawab saya.

“Kenapa masih dibawa jalan juga? Bisa saya sita lho ini,”sahutnya dengan nada dasar do=G rendah.

“Ya, maaf Pak. Agak darurat, nih,” bohong saya.

“Coba lihat STNK sama SIMnya.”

Saya keluarkan fotokopian STNK karena yang asli sedang diurus, beserta dengan SIM saya yang sudah mangap termakan usia.”

Pak Pulisi menangkap dua dokumen itu dan berkata, “Wah ini nggak boleh nih fotokopian begini…”

“Iya Pak, memang saya salah,” jawab saya.

“Terus kenapa ini SIMnya mangap begini?” tanyanya lagi.

“Laper Pak,” saya menyatakan kondisi perut saya yang sesungguhnya.

“Turun dulu aja deh, Pak,” kata Pak Polisi itu.

Saya pikir dia mau membelikan saya makan malam, kebetulan saya lapar, maka saya turun menuju motor besarnya. Pak Polisi itu kemudian mengeluarkan segepok kertas, saya kira daftar menu, saya sudah berencana memesan kwetiauw goreng, pedes, pake ampela ati, kerupuk dibanyakin, nggak pake lama, sampai saya lihat bahwa sebenarnya gepokan kertas itu adalah surat tilang.

“Gini, Pak. Kita sedang ada Operasi Patuh, jadi semua tindak pelanggaran lalu lintas harus ditindak tegas, seharusnya kendaraan Bapak kita bawa ke markas dan disita,” katanya. Dari ekspresinya, saya memperkirakan bahwa Pak Polisi ini tidak terlalu lapar.

“Oh gitu ya, Pak? Nggak bisa damai aja ya?” sungguh saya malas berurusan lama dengan pihak mereka ini.

“Damai gimana maksud kamu?” Pak Polisi mulai tampak sedikit lapar.

“Ya gimana deh Pak biasanya aja,” sahut saya berusaha meyakinkannya bahwa saya ini masih orang Indonesia. Hanya saja saya lapar.

“Kamu mau damai berapa?”

Jujur saya sesungguhnya bingung juga dengan pertanyaan ini, tapi saya balas, “Ya dari Bapak aja deh.” Sungguh saya khawatir Pak Polisi ini dipasangi penyadap dengan kamera tersembunyi di sekitarnya, dan seketika setelah saya menyebutkan nominal yang akan saya berikan untuk menyogoknya, segerombolan kru TV muncul dari berbagai penjuru dilengkapi dengan Polwan cantik jelita yang segera merangkul saya dengan mesra dan menyebutkan bahwa saya sedang berada di dalam sebuah acara TV.

Sungguh saya masih punya sebersit optimisme semacam itu, di mana organisasi pengayom masyarakat ini masih punya integritas, walaupun terbungkus sedemikian rupa. Sungguh saya masih berharap mereka benar-benar melindungi saya sebagai masyarakat, tapi kemudian Pak Polisi menunjuk surat tilangnya, “Ini kalau pelanggarannya semacam ini, dendanya sekian lho! Kamu mau damai berapa?”

Sekali lagi saya bingung dengan susunan kalimat “Kamu mau damai berapa?”

Kemudian optimisme dan harapan saya tadi pupus sudah. Saya kemudian menjawab “Ya sepertiganya aja deh Pak.”

“Setengah!” sahutnya.

“Sudahlah Pak, kita bungkus saja di 40%, gimana?” saya berusaha menutup obrolan tersebut.

“Ya udah, masukin duitnya ke sini,” Pak Polisi itu membuka box kecil di motornya. Saya selipkan uang pembungkam mulut itu ke sana. Pak Polisi menutupnya dengan sigap lalu tak sampai 30 detik kemudian, motor besar itu hilang ditelan kegelapan malam.

***

Di satu sisi saya muak melihat dan mengalami sendiri kejadian ini, di sisi lain saya bersyukur karena setelah mengeluarkan uang ekstra malam itu, saya bisa segera memesan kwetiauw goreng, pedes, pake ampela ati, kerupuk dibanyakin, nggak pake lama, tanpa perlu berhadapan langsung dengan sistem peradilan, pengadilan yang akan lebih banyak lagi menyedot energi dan biaya.

Walaupun harapan saya terhadap keadilan, peradilan dan lembaga-lembaga yang mengurusinya pupus sudah. Habis. Tak bersisa. Walaupun sedikitpun tak ada saya menaruh percaya kepada jargon apapun juga yang disematkan ke lembaga dan institusi yang berhubungan dengan peradilan dan pengadilan di Indonesia. Sekali lagi, tidak.

Meme di awal tulisan itu menjadi sangat masuk akal. Kehadiran beberapa orang berseragam coklat terbungkus rompi hijau stabilo memang selalu menimbulkan rasa deg-degan yang memicu reaksi mengecek isi dompet sambil memastikan posisi hari dalam kalender.

Sesungguhnya saya bisa saja mengaku sebagai pers. Saya memang kerja di TV, dan punya ID card bertuliskan pers, tapi menurut saya itu adalah sebuah pengingkaran terhadap idealisme untuk menjawab kerusakan mental. Saya sedang tidak dalam kapasitas untuk mencari berita, shooting, atau apapun juga, maka saya merasa tidak pantas menggunakan identitas saya itu untuk mengamini kesalahan saya. Saya kan memang salah.

Iya saya kan emang idealis gitu anaknya.

***

Semua kejadian yang saya tuliskan di atas tentu saja diilhami dari kejadian yang sebenarnya, walaupun tetap saya bungkus ulang supaya tidak menyinggung identitas pelaku sesungguhnya dan semua informasi yang bisa membahayakan ribuan jiwa umat manusia. #wuopoh

Akhir kata, saya harus meminta maaf kepada pihak-pihak yang mungkin tersinggung dengan tulisan ini, saya hanya membagi pengalaman pribadi saya, tanpa bermaksud menggeneralisasi penilaian saya terhadap siapapun juga.

Atau saya sudah menggeneralisasi ya?

Salahkah kalau ada generalisasi itu?

Your call!

***

NB: hari ini saya naik sepeda

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s