Family Comes First

Berbagi satu rumah bersama dengan Reno, adik saya sekeluarga, adalah salah satu keputusan terbaik yang bisa saya buat.

Sebelumnya kami masing-masing menyewa apartemen di lokasi yang terpisah jauh, saya dan Diana di Grogol, sementara adik saya bersama suami dan anaknya, di Kalibata. Pola pikir kami sama, tidak ingin menghabiskan terlalu banyak waktu dan tenaga di jalanan. Oleh karena itu, kami sama-sama tidak ingin membeli rumah di daerah pinggiran Jakarta (pardon my language) dan mengorbankan 4-5 jam kami untuk bermigrasi ke dan dari tempat kerja.

Maka kami mencari rumah di tengah Jakarta, untuk bisa ditinggali bersama. Dua keluarga di bawah satu atap. Banyak yang mempertanyakan, sebenarnya, “Apa nggak malah berantem mulu kalau serumah ada dua keluarga?”

Buktinya tidak. Dua tahun berjalan, dan sama sekali tidak ada masalah antara dua keluarga kami.

Dua keluarga?
Tiga keluarga?
Bukan, SATU!

1545180_10151860835728873_2113642936_n

Kami tidak pernah membentuk dua keluarga, tiga keluarga, hanya satu keluarga yang sama menambah jumlah anggota.

Saya, Reno dan Yoyok, memang sangat dekat satu sama lain. Saya dan Reno terpaut dua tahun dan jaang akur waktu kecil. Wajar, namanya juga anak-anak. Tapi memasuki dan melalui masa remaja bersama, berbagi peer group yang kadang bersilangan, kami menjadi dekat. Sangat dekat. Saya merasa punya kewajiban menjaga Reno, dan rasanya ada rasa hormat dan cinta yang setimpal, yang ia berikan kepada saya. Walaupun adik perempuan saya satu-satunya ini jauh lebih galak dan saklek dibanding saya.

Yoyok terpaut 7 tahun dari Reno, 9 tahun dari saya. Kami selalu menganggap dia sebagai adik kecil, hitam manis, bersenyum lucu yang mewarnai hidup kami. Walaupun sekarang dia bersabuk hitam Tae Kwon Do, lengkap dengan badan kotak-kotak seperti lincak Poskamling RT 11, dengan garis rambut yang mundur teratur, dia tetap anak kecil hitam manis yang sama. Yoyok menyadari seberapa besar cinta kami terhadapnya dan membalasnya dengan rasa hormat dan cinta yang setimpal.

10565094_10152281467903873_7837496075841851703_n

Saya menghormati dua adik saya sebagai pribadi-pribadi yang luar biasa. Tajam, cerdas, pekerja keras, penuh integritas, dan jujur. Saya sungguh-sungguh percaya masing-masing dari mereka adalah pribadi-pribadi yang kuat dan bisa menjaga diri sendiri, tapi tetap keinginan untuk terus menjaga mereka tak pernah hilang. Saya rasa dan harap, mereka merasakan hal yang sama tentang saya.

Mempunyai dua saudara kandung yang demikian luar biasa adalah sebuah kebanggaan tersendiri untuk saya, tapi tentu saja kebanggaan yang jauh lebih besar untuk Ibu saya. Sementara itu, kami juga luar biasa bangga punya Ibu yang sedemikian hebat. Sebuah magnet sosial yang dicintai oleh siapapun juga.

Lain kali lah, saya tulis mengenai Ibu. Kepanjangan.

971644_10151837531003873_1049349887_n

Saat masing-masing dari kami memulai sebuah keluarga baru, awalnya saya pikir, kami akan menjadi beberapa keluarga yang terpisah. Entitas-entitas institusi baru yang berhubungan seperlunya saja di saat-saat tertentu. Anggota-anggota baru dalam keluarga harus berusaha keras untuk bisa berbaur dengan anggota-anggota lama.

Dugaan saya ternyata salah.

Kami tetap menjadi satu keluarga yang sama, dengan beberapa tambahan anggota baru. Saat ini tidak secara psikologis, tidak secara geografis, karena ternyata eventually kami semua berada di satu tempat. Jika nantinya kami harus berpisah dan terpisah oleh jarak dan waktu, saya cukup yakin, ikatan psikologis yang cukup kuat satu dengan yang lain yang kami miliki sekarang ini, akan tetap lestari.

Ikatan psikologis yang kami miliki ini, kami sadari sebagai sebuah aset yang luar biasa berharga. Ikatan psikologis ini mungkin yang disebut sebagai unconditional love. Kami mencintai satu sama lain tanpa syarat dan hubungan itu terbangun begitu kuat sedemikian rupa sehingga saat ada peristiwa yang mengguncang, secara otomatis ikatan ini akan menjadi sebuah support system yang luar biasa kokoh.

40492_433092603872_3916604_n

Saat Bapak pergi, sadar bahwa kami tidak punya banyak hal, kecuali keluarga kecil ini. Kami menguatkan satu sama lain. Tanpa banyak kata, tanpa banyak bicara, tanpa banyak ini itu, terpisah jarak, terpisah waktu, mengetahui bahwa ada seseorang di sana yang mencintai, peduli dan akan selalu ada, adalah sebuah kekuatan tersendiri. Mengetahui bahwa beberapa orang di sana yang membutuhkan kita adalah sebuah dukungan moral dan psikologis yang luar biasa dahsyat. Kami bangkit dengan cepat, kami berdiri lagi dengan tegar.

Saat Diana pergi, hal yang sama terulang kembali. Keberadaan Reno, Yoyok, Ibu, Yudhis, Tantra dan Tara di satu lokasi yang sama adalah sumber kekuatan tersendiri untuk saya. Sungguh saya bersyukur sudah memutuskan untuk tinggal bersama dengan Reno sekeluarga. Karena setiap hari, terbangun di pagi hari disambut dengan hiruk pikuk adalah sebuah berkat, yang senantiasa mengingatkan saya untuk tidak terlalu lama terlarut dalam nestapa *anak 90an banget nih kalau bahasanya begini*. Rumah kami tidak pernah sepi, yang satu selalu ada untuk yang lain.

Kehadiran mereka semua adalah alasan yang sangat kuat bagi saya untuk selalu menampar pipi dan kembali menghardik diri sendiri setiap kali ingin jatuh dan tenggelam. Maka saya mampu bangkit dengan cepat. Saya terbantu untuk bangun dengan segera, karena saya tahu bahwa semakin cepat saya bangkit, semakin cepat juga masing-masing dari kami bisa menyembuhkan luka ini. Kami semua terluka dan dalam proses menyembuhkan diri.

Saya disembuhkan, dan saya rasa, saya juga menyembuhkan.

Kata-kata tak mungkin dapat menggambarkan betapa bangganya saya dilahirkan di dalam sebuah keluarga inti yang demikian hebat dan kuat.

My family is always on top of my list!

Iklan

2 pemikiran pada “Family Comes First

  1. Saya suka sekali tulisannya Mas, sepertinya banyak keluarga yang membutuhkan keluarga Mas sebagai role model karena menjelang semakin dewasa, ego layaknya anak kecil justru semakin timbul di diri masing-masing anggota keluarga. Klasik.

    Ohya, kebetulan saya bisa baca blog ini karena linknya ada di timeline Yoyok di FB. Kebetulan saya satu angkatan di JB dengan Yoyok. Saya juga dengar kepergian Mbak Diana yang terlalu dini. Turut berduka cita Mas. Tetap menulis. AMDG.

    1. Salam kenal mas Atindriyo161, mohon maaf saya tidak tau panggilannya apa, dan terima kasih banyak sudah membaca. Kami sekeluarga merasa terhormat jika njenengan memandang keluarga kami sedemikian positifnya.
      Terima kasih sudah membaca! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s