Jual Beli di Lembaga Peradilan

Sebelum melangkah lebih lanjut, izinkan saya memohon maaf terlebih dahulu untuk rekan, keluarga dan teman yang mungkin tersinggung atas isi tulisan saya ini. Saya tidak bermaksud mendiskreditkan siapapun dalam tulisan ini, hanya bermaksud membagi pengalaman pribadi saya.

Baiklah, jadi ceritanya, terkait dengan kepergian Diana, dua bulan yang lalu itu, ada beberapa hal yang harus diselesaikan secara administratif di sini dan di sana: Asuransi dan Bank dan Catatan sipil (Wow, huruf depannya A-B-C!) dan sebagainya lah. Walau saya ini adalah procrastinator bersertifikasi internasional, kali ini saya harus mengingkari jati diri saya itu dan ingin menyelesaikan semuanya dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya. Buru-buru pokoknya judulnya.

Satu hal yang paling saya anggap urgent adalah penutupan rekening bank dan pemindahtanganan save deposit box yang kami miliki bersama. Maka datanglah saya ke bank dan menanyakan syarat-syaratnya. Singkat kata saya melangkah keluar dari bank tersebut dengan secarik kertas yang penuh terisi dengan pangkal keenganan terdahsyat di muka bumi ini. Keharusan berhubungan dengan birokrasi pemerintahan dan peradilan di negara ini merupakan sebuah momok untuk saya.

Satu dokumen yang harus saya sediakan sebagai syarat adalah Surat Keterangan Waris dari Pengadilan Negeri atau Notaris. Tentu saja saya awam sekali mengenai hal-hal terkait hukum semacam ini, maka saya mencari tahu lewat beberapa teman dan saudara. Seorang teman berkata, “Memang sebenernya kamu harusnya ke Pengadilan Negeri, karena Notaris itu untuk warga asing atau keturunan, tapi ya gitu deh, orang-orang PN itu kadang suka nyebelin…”

Wah, saya kok malah jadi penasaran dengan se-nyebelin apa sih sebenarnya kalau saya mengurus surat ini langsung di PN itu. Sebagai anak yang kompetitif banget, maka saya menerima tantangan untuk mengurusnya sendiri ke PN.

Siang kemarin saya menyempatkan ke Pengadilan Negara.

Melangkah masuk pagar, terlihat sesosok kantor yang terkesan megah dan kokoh dengan nuansa putih hijau dihiasi logo besar Pengadilan Negeri yang terbuat dari logam berwarna keemasan di tembok gedung depan. Saya memandang logo besar itu dengan penuh rasa hormat dan harapan besar untuk mengalami kemegahan kata “keadilan” paling tidak sekali dalam hidup saya.

image

Belum lima langkah dari pagar ada seorang lelaki berkata, “Tilang, Pak…mau dibantu?” Saya pura-pura tidak dengar dan melanjutkan perjalanan saya.

Saya, kemudian melangkah masuk pintu utama. Di sana saya disambut oleh seorang lelaki yang mengenakan polo shirt berbahan murahan dengan tulisan Pengadilan Negeri tersemat di dada, sementara itu seorang perempuan cantik yang tampak berseragam batik layaknya resepsionis sedang ber-selfie menggunakan iPhone 6 Plus di belakang meja informasi.

Sudah, kita skip saja informasi mengenai iPhone 6 Plus itu karena bisa mengundang prasangka buruk.

Si lelaki berpolo shirt tadi dengan ramah menyapa, “Siang Pak, ada yang bisa dibantu?”

Seketika seluruh indera laba-laba saya beraksi. Saya tidak suka dengan keramahan ini, pasti ada apa-apanya! Tapi karena memang intensi saya ingin melihat sendiri, sampai sejauh dan seburuk apa semua ini, maka saya ladeni, “Mau buat surat keterangan waris, Pak…ke panitera…”

“Oh, mari Pak ikut saya…” si Lelaki Polo Shirt dengan sigap melangkah masuk dan memandu saya melewati depan ruang sidang, masuk melalui tempat dimana puluhan orang berkumpul menunggu sesuatu, naik tangga, melewati toilet, melalui beberapa kantor dengan papan nama di atasnya, ke sebuah ruangan yang beridentitaskan Panitera sesuatulah, saya tidak ingat persis.

Si lelaki polo shirt kemudian mempersilakan saya masuk lalu mengarahkan, “Silakan Pak, nanti sama Bu Mawar (bukan nama sebenarnya) ya…”

“Baik Pak, terima kasih…” ujar saya sambil melangkah mendekati meja si Bu Mawar.

“Makasih ya Pak Nganu…” Bu Mawar berkata kepada lelaki polo shirt. Ia kemudian bertanya, “Bisa dibantu, Pak?” kepada saya yang sudah duduk di hadapannya.

Bu Mawar ini seorang perempuan di umurnya yang sekitar 40an, yang tubuhnya sedang-sedang saja, ber-make up cukup tebal dengan lipstik merah menyala yang sebenarnya cukup matching dengan kulitnya yang kuning langsat. Di mejanya ada kunci mobil Jepang yang cukup baru, bersebelahan dengan dua HP keluaran Korea yang biasa-biasa saja. Di jarinya beberapa cincin berwarna keemasan, sedangkan lehernya berhiaskan kalung besar yang juga berwarna keemasan. Cukup mentereng.

Menanggapi pertanyaan Bu Mawar saya menjawab, “Ini Bu, saya mau ngurus surat keterangan waris untuk administrasi bank…”

“Oh gitu, siapa yang meninggal, Pak?”

“Istri saya…”

“Turut berduka cita ya, Pak…”

“Iya terima kasih, Bu.”

“Bapak sudah tahu syarat-syaratnya belum?” Bu Mawar menyambung dengan pertanyaan.

“Belum sih, Bu…saya makanya mau nanya dulu…” jawab saya.

“Baik, kalau begitu, mohon Bapak siapkan KK, Surat Waris dari Kecamatan, KTP Istri Bapak, KTP Bapak sendiri, dan keterangan kematian dari dokter…setelah itu nanti saya buatkan permohonannya supaya bisa disidang,” katanya sambil mencatatkan semuanya di secarik kertas.

“Lho, pake sidang segala to, Bu?” Tanya saya tang sungguh bodoh mengenai hal ini.

“Iya, Pak. Hakim yang harus memutuskan ini.”

“Oh, Oke. Terus berapa biayanya, Bu?” Saya mencoba to the point saja.

Bu Mawar kemudian sedikit menurunkan suaranya dan menjelaskan, ” Gini, Pak. Kalau Bapak lewat saya, nanti saya uruskan semuanya, saya pilihkan hakim yang nggak ribet jadi dijamin Bapak cuma sekali datang sidangnya, biayanya 5.”

“Lima juta, Bu?” Saya mengonfirmasi panca indera saya.

“Iya, Pak. Lima juta,” Jawabnya

“Oh…oke…” sahut saya yang agak kaget dengan angka itu.

“Bapak bisa juga kalau mau urus manual semuanya, nah itu biayanya 3 juta…tapi saya nggak jamin sidangnya bisa cuma sekali, Pak…kan ada juga hakim yang ribet….” Bu Mawar menambahkan karena tampaknya melihat sedikit keraguan di mimik muka saya.

“Baik, Bu. Coba saya siapkan dulu saja surat-surat dan uangnya, kalau sudah lengkap, saya kembali ke sini lagi, ya…” jawab saya.

Saya sudahi pembicaraan itu, mengucap salam dan terima kasih, lalu melangkah keluar dari ruangan itu.

Sumpah mati, saya muak.

Harapan saya terhadap kemegahan dan keagungan kata “keadilan” itu musnah sudah. Saya berharap bertemu dengan lembaga yang sakral layaknya dewi Themis yang berdiri anggun sambil membawa timbangan di satu tangan dan pedang di tangan yang lain dengan mata tertutup, namun kesan yang saya temui adalah jauh dari itu.

Saya merasa baru saja keluar dari sarang hyena yang siap memangsa apa saja yang perlu melintas di dekat situ, hidup atau bangkai.

image

Saya kecewa.

Saya berharap, lalu saya kecewa.

Kasus saya mungkin sepele dan tidak melibatkan uang dalam jumlah yang banyak, sekadar surat keterangan waris. Dalam kasus ini saja, jasa “calo internal” dengan terbuka ditawarkan seperti itu, bagaimana jika kita bicara mengenai sebuah kasus yang melibatkan milyaran rupiah? Trilyunan rupiah? Pasti tingkat “keramahan” dari lingkungan itu mendadak berlipat-lipat. Tidak terbayangkan betapa para hyena itu bersimbah liur menyambut mangsa yang luar biasa bergizi.

Saya sungguh-sungguh sedih dengan nasib mental bangsa ini. Yang saya ceritakan ini lembaga peradilan, lho. Lembaga yang seharusnya menjunjung tinggi integritas, kejujuran dan tentu saja keadilan.

Mbel gedhes telek minthi!

Momok saya beralasan. Ketakutan saya rasional. Saya dibesarkan di lingkungan keluarga yang begitu menjunjung tinggi, bahkan mengkultuskan kejujuran dan integritas, maka berhadapan dengan sesuatu yang semacam itu, rasanya badan saya gatal-gatal alergi. Saya malu, saya sedih, saya ngeri membayangkan betapa negara ini dikuasai dan dijalankan oleh sebuah organisasi mafia yang terstruktur dan berakar yang melestarikan kebusukan mental, yang sulit sekali direformasi, atau direvolusi. Bulu kuduk saya berdiri seketika, memikirkan tentang betapa di negara ini, keadilan bisa dibeli dengan mudah, semudah membeli sebungkus indomie.

Mungkin saya berlebihan.

Tapi tampaknya jika pun saya harus mengeluarkan uang yang sebesar itu, saya lebih rela mengeluarkannya untuk notaris yang jelas-jelas memasang tarif untuk jasa yang ditawarkan. Profesional bukan pungutan liar.

Keadilan itu apa, sih? Saya harus bertanya lagi. Seluruh bangsa ini harus bertanya lagi.

***

NB: Membaca draft dari postingan ini, adik saya menyarankan, “Kamu tutup dengan sebuah kalimat yang positif dong biar tulisanmu jadi netral…” Demi Tuhan, sejujurnya harapan saya sudah pupus untuk hal ini, tampaknya hanya keajaiban ala 7 bencana Mesir zaman Nabi Musa yang bisa merombak mentalitas dekaden ini secara total.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s