Cinta pada Pandangan Pertama dan Potty Training

Cinta pada pandangan pertama. Cih, roman picisan ala drama komedi romantis Adam Sandler kalau tidak mau disebut terlalu sinetron.

Saya tidak pernah percaya, menolak percaya pada frase “Cinta pada Pertama”.

Tidak ada.
Nihil.
Ora ono.
Mbelgedhes!
Ngapusi!
Khayal.
Imajiner.

Begitu pikir saya sampai saat itu.

Saat saya menyaksikan sendiri peristiwa magis seorang bidadari turun ke dunia, saat pertama kali saya melihat makhluk cantik itu, saat itulah saya tahu, bahwa semua keyakinan saya tentang “cinta pada pandangan pertama” adalah salah, karena saya telah mengalaminya sendiri.

Peristiwa itu saya beri nama Tara.

image

Absurd.

Tara, selain menegasikan keyakinan tentang cinta pada pandangan pertama, juga seketika dengan tegas melegitimasi dan menyegel keyakinan saya terhadap pandangan bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama dan setara, sehingga kewajiban mengurus rumah dan membesarkan anak bukan suatu hal yang bisa di-claim oleh salah satu gender saja dalam rumah tangga.

Maka sebisa mungkin, saya belajar bagaimana mengurus Tara dengan baik. Sampai saat ini, hampir semua kegiatan yang berhubungan dengan mengurus anak, saya bisa melakukannya.

Memandikan? Saya memandikan Tara bahkan dari dia belum genap 1 bulan.

Memasak? Dari dulu saya suka memasak, jadi bukan hal yang sulit.

Memakaikan baju? Gampang!

Mengganti popok? Kecil!

Menyuapi? Bisa!

Menggunting kuku? Akhirnya bisa lah, walaupun tetap saya anggap sebagai salah satu pekerjaan paling berbahaya di dunia.

Menggunting rambut? Bisa dipelajari, walau tidak akan pernah bisa dipraktekkan ke diri sendiri.

Bermain? Saya rasa saya tidak pernah benar-benar menjadi dewasa untuk lupa bagaimana caranya bermain.

Semua yang dibutuhkan oleh Tara, saya bisa melakukannya, kecuali satu hal.

Membersihkan kotoran seusai BAB.

Nyebokin.

Saya selalu lemah kalau harus berhubungan dengan bau dan bentuk yang tidak menyenangkan, dan secinta-cintanya saya terhadap sesuatu atau seseorang saya tidak pernah bisa 100% mengatasi kelemahan saya ini. Mulai dari umur 1 hari, saya sudah memberanikan diri untuk membersihan kotoran Tara, tapi tetap saja dari saat itu hingga hari ini, gag reflex saya selalu beraksi berlebihan setiap kali aktivitas itu harus dilakukan.

Perut saya selalu mual dan perasaan ingin muntah selalu timbul setiap kali saya harus membersihkan kotoran Tara. Diana selalu melindungi saya dari titik lemah ini. Diana yang akan selalu sigap mengambil alih tugas ini sehingga saya tidak harus mengalaminya.

Itu mengapa untuk saya potty training sangat penting. At least bagi saya, karena sewaktu habit untuk buang air besar itu sudah terbentuk, dengan sendirinya porsi interaksi saya dengan kotorannya akan berkurang jauh.

Tapi potty training tidak mudah untuk kami, bahkan saat masih ada Diana.

Waktu Tara berumur 6 bulan, saat dia sudah mulai duduk, kami mencoba memberinya potty training. Saya, tentu saja, adalah salah satu yang paling semangat.

Awalnya saya belikan Tara potty tanpa memperhatikan bentuk dan warna. Potty itu berwarna kuning. Tara menolak untuk duduk di situ.

Menyadari kesalahan itu, saya belikan lagi potty warna pink. Tetap Tara menolak untuk mendudukinya. Kami coba cara lain, kami coba mendudukkan Tara di bantalan toilet bergambar Hello Kitty. Cara ini tampaknya hampir menciptakan titik terang, karena akhirnya, suatu hari, Tara mau duduk di situ.

image

Tapi memang tampaknya belum saatnya.

Waktu itu, saat sudah mau duduk di toilet, pup-nya Tara keras, saking sulitnya keluar sampai harus kami bantu dengan menggunakan cotton buds. Tentu saja dia menangis sejadinya. Kasihan sekali.

Sejak saat itu, Tara tampaknya menghubungkan toilet dan potty dengan pengalaman yang tidak menyenangkan. Setiap kali ditanya “Mbak Tara pup?” pasti jawabannya “Nggak!” walaupun tidak lama kemudian, dia pasti bersembunyi di bawah kursi untuk buang air besar.

image

Ya sudah. Mungkin memang butuh waktu untuk melepaskan diri dari trauma semacam yang dialami Tara. Maka kami membiarkan saja Tara pup dengan cara yang dia mau, tanpa berusaha memberinya potty training lagi.

Akan tetapi urgensi potty training menjadi sangat terasa, selepas Diana pergi. Kami semua harus menjadi lebih mandiri dan secara khusus, saya merasa Tara harus sesegera mungkin bisa pup di tempat yang seharusnya. Lebih karena membersihkan kotoran Tara tetap sangat berat untuk saya.

Tampak egois ya? Biarlah, toh memang sudah saatnya. Tidak ada yang dicurangi di sini.

Maka mulai sebulan yang lalu, saya keluarkan lagi, potty-potty berwarna pink dan kuning itu, juga bantalan toilet bergambar Hello Kitty. Untuk melawan trauma Tara, saya coba tunjukkan bahwa duduk di potty itu tidak berbahaya.

image

Setiap kali ada kesempatan, hal ini selalu saya ulangi, saya duduk di potty kuning, dan saya minta Tara untuk duduk di potty pink. Awalnya Tara menolak, tapi lama kelamaan, Tara mau juga duduk di potty.

Rasanya ada petasan penganten Betawi di dada saya sewaktu Tara pada akhirnya mau duduk di potty.

Senang sekali.

Proses belajar masih jauh dari selesai, saya sadar sekali. Maka setiap kali Tara terlihat gelisah, dan menunjukkan tanda mau pup, selalu saya tawari, “Mbak Tara mau pup?” Kadang dia mau, kadang tidak. Tidak apa-apa.

image

Sampai tadi malam, waktu Tara bilang, “Bapak, Mbak Tara mau pup…” lalu mengajak saya mengambil potty di kamar mandi dan berkata, “Bapak potty kuning, Mbak Tara potty pink…” Lalu kami bawa potty ke kamar, saya duduk di potty kuning, dan Tara duduk di potty pink. Setelah itu,Tara minta ditutup kepalanya dengan selendang batik yang ada di dekatnya, kemudian dia pup.

Wah, senangnya seperti waktu lulus kuliah! Sumpah!

image

Walaupun masih ber-diaper dan celana yang tidak mau dilepas, tapi bagaimana Tara bisa mengungkapkan bahwa dia pengin pup dan kemudian mau melakukannya di tempat yang seharusnya, adalah sebuah pencapaian. 😀

Tahap selanjutnya terlewati. Lega.

Tetap saja, proses belajar belum selesai, Begitu juga tantangan dalam hal membersihkan kotoran. Saya harus tetap berjuang untuk itu.

Suatu kali saat membersihkan kotoran Tara di kamar mandi, tentu saja dengan gag reflex berlebihan seperti biasa, Ibu saya datang dan berkata, “Sini, sama Ibu aja…kasihan kamu huek-huek terus gitu…” Tapi saya tolak dengan menjawab, “Kalau besok Ibu pas nggak ada, siapa yang mau ngerjain? Mendingan aku sengsara sekarang tapi makin lama makin biasa, daripada nggak pernah, tapi sekalinya mesti ngerjain sendiri, langsung semaput…”

Something that doesn’t kill you can only make you stronger.

Anyway, Kesimpulan dari tulisan panjang yang sedikit menjijikkan ini adalah:

1. Untuk membuat saya percaya pada “cinta pada pandangan pertama” dibutuhkan sebuah mukjizat, dan mukjizat itu sudah pernah saya alami sendiri. Tanpa melalui kejadian dan peristiwa yang serupa, saya ragu akan bisa mengalaminya lagi.

2. Jatuh cinta pada pandangan yang pertama adalah sebuah kejadian kecil, percikan api dalam kehidupan dan perjalanan cinta seseorang. Setelah itu tetap saja semua orang harus berhadapan dengan kehidupan yang maha berproses. Anda pernah jatuh cinta pada seseorang pada pandangan yang pertama? Tetap saja anda harus PDKT dulu, setelah itu jadian, setelah itu saling mengenal satu sama lain, setelah itu nikah, setelah itu membangun rumah tangga. Proses itu selalu menyakitkan, tapi harus dijalani. Seperti saya harus melawan ketidaksanggupan saya dalam mengurusi pup-nya Tara.

3. Sekali lagi, cinta adalah kekuatan maha dahsyat yang bisa memberi energi berlebih bagi seseorang untuk dapat melawan ketakutan dan kelemahan terbesarnya. Saya sadar bahwa cinta saya terhadap Tara, lebih besar dari apapun juga, maka halangan apapun juga yang harus saya terjang, akan saya terjang! Demi Toutatis akan saya terjang!

Love you all…

Iklan

2 pemikiran pada “Cinta pada Pandangan Pertama dan Potty Training

  1. Mas Bagas, saya selama ini jadi silent reader. Saya menyukai tulisan2 Mas Bagas, sekaligus menjadi fans nya Tara.

    Saya bisa membayangkan perasaan tak enak setiap kali harus membersihkan kotoran. Dulu semasa menjadi guru playgroup, hal paling berat adalah ketika murid saya bilang ‘mau pup’. Dan entah muka saya yang mirip jamban atau bagaimana, hampir semua murid lebih senang pergi pup dengan saya dibanding dengan guru lainnya.

    Saya yakin nanti lama-lama Mas Bagas akan terbiasa dan tahu tekniknya agar bisa menceboki dengan singkat serta efisien. Atau tak perlu menunggu lama, semoga Mbak Tara bisa segera cebok sendiri ya.

    1. Wah Mbak Angguni…terima kasih sekali sudah mau membaca tulisan saya yang ngawur2an ini…moga2 tidak ada yang menyinggung dan mengganggu…

      Terus terang sampai sekarang saya, masih membayangkan “muka mirip jamban” itu seperti apa…kok terdengar agak eksotis, gitu…

      Hehehe…

      Sekali lagi terima kasih dan salam kenal… 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s