Tiga Puluh Dua

Tiga puluh dua. Ya, hari ini saya 32. Entah apa yang bisa saya tuliskan hari ini, karena sesungguhnya, tidak ada tradisi yang mengiringi perayaan bertambahnya umur di dalam keluarga saya. Ulang tahun tidak pernah dipandang sebagai sesuatu yang secara esensial perlu dirayakan di dalam keluarga saya. Menurut Bapak saya dulu, yang harus dirayakan, itu pencapaian, prestasi. Hari ulang tahun itu sekadar seremonial, monumen yang  tidak terkait dengan prestasi apa pun juga. Sebatas pengingat bahwa kamu ada.

Pada mulanya saya punya pikiran yang serupa. Tidak menganggap ulang tahun itu penting dan perlu dirayakan. Makin ke sini, saya tampaknya harus tidak setuju dengan Bapak. Menurut saya, kehadiran seseorang di dunia adalah sebuah prestasi.

Probabilitas. Probabilitas untuk terjadinya seorang manusia adalah satu berbanding beberapa juta. Adalah sebuah prestasi untuk satu sel sperma untuk berhasil mencapai sel telur, sebelum beberapa juta yang lain yang berlomba mencapai tujuannya.

Perjuangan. Perjuangan untuk sebuah janin menjadi bayi dalam kandungan, kemudian lahir di dunia adalah luar biasa. Saya menyaksikan sendiri bagaimana Tara dilahirkan dan hormat saya terhadap peristiwa “lahir” itu berlipat beratus-ratus kali. Sebuah prestasi tersendiri seorang bayi bisa terlahir di dunia ini.

Jadi menurut saya, sebuah hari ulang tahun itu patut dirayakan, karena kehadiran, eksistensi seseorang di dunia ini adalah sebuah anugerah, sebuah prestasi, sebuah mukjizat alam semesta, yang patut dirayakan dan dihormati.

“Ada”mu itu indah.

Mendekati hari ulang tahun saya, dulu biasanya Diana bertanya, “Kamu mau dikado apa?” Saking lamanya kami bersama, membuat semua bentuk hadiah yang bisa terbayangkan dan mampu dibeli, sudah pernah saling kami berikan. Biasanya pertanyaan ini terjawab, “Nggak usah pake kado-kadoan, keberadaanmu itu hadiah buat aku…” Tampak gombal? Mungkin agak gombal kalau orangnya masih ada. Ketika orangnya sudah tidak ada seperti Diana, makna dari kata-kata jawaban ini menjadi berlipat-lipat kedalaman maknanya. Bahwa keberadaanmu adalah sebuah anugerah dan kado yang paling bernilai untuk hidupku, sekarang menjadi sangat berarti.

Mungkin benar karena kita tidak akan pernah tahu apa yang kita punya sebelum kita kehilangannya.

Hari ini, sejujurnya lewat semua yang sudah terjadi, saya dipaksa untuk bisa menghargai dan memberi makna lebih kepada “ada” dari orang-orang di sekitar saya. Eksistensi masing-masing individual yang berkeliaran di dalm hidup saya, adalah penting dan sangat berarti, siapapun mereka. Hari ulang tahun menurut saya harus dirayakan, bukan berarti berharap mendapatkan hadiah, tapi sebaliknya, memahami bahwa sesungguhnya andalah hadiah untuk dunia ini, dan sebagaimana layaknya hadiah, adalah tugas setiap orang yang ada dalam dunia ini untuk membuktikan bahwa dia berguna. Skala berguna ini unik, seberapa jauh guna anda tersebar ini menentukan “kebesaran” anda di dunia, tapi besar atau kecil jangkauan guna seseorang, ia tetaplah hadiah untuk dunia ini, maka rayakan!

Hari ini saya 32, empat windu sudah bergulir dalam hidup saya, setengah perjalanan menuju Tumbuk Ageng, yang kalau tidak salah terjadi hanya setiap delapan windu sekali di dalam kehidupan manusia, di mana hari weton seseorang tepat sama dengan saat ia dilahirkan ke dunia. Empat windu, yang berarti sudah empat kali sel tubuh saya berganti, katanya seluruh sel tubuh seseorang, total tergantikan dengan sel baru setiap 8 tahun sekali.

Fase hidup baru.

Ya, sama sekali baru. Memulai kebiasaan baru, beradaptasi dengan situasi baru, menerima kondisi baru, menjalani hidup dengan cara yang baru. Semuanya baru, dan alam semesta begitu menyayangi saya sehingga kebaruan ini dirayakan dengan cara yang begitu meriah.

Terlalu meriah.

Damn.

Di sinilah terasa bahwa Statistika adalah kesalahan terbesar umat manusia setelah bom atom, legging macan yang dipakai tante-tante separuh baya, dan sandal crocs. Minus 1 tampaknya tidak terlalu besar dampaknya, tapi hari ini sungguh-sungguh terasa bahwa minus 1 adalah sebuah kondisi yang sangat berbeda.

image

Ah sudahlah, saya rayakan sajalah hari ini sebagai hari di mana saya harus berubah menjadi manusia baru, secara biologis dan secara psikologis, sehingga saya harus mengucapkan rasa terima kasih yang semaksimal mungkin kepada semua teman dan keluarga yang sudah mengekspresikan doanya lewat pesan singkat, social media maupun jabat tangan dan cium hangat. Akan selalu jadi pengingat untuk menjadi hadiah yang baik untuk dunia di sekitar saya.

Terima kasih.

image

Iklan

6 pemikiran pada “Tiga Puluh Dua

  1. Selamat ulang tahun Bapak hebat. Semangat selalu dan sukses selalu. Peluk buat malaikat kecil Tara dari kami semu. Gbu ^_^

  2. Happy birthday ya jaaamm… wish u nothing but the best… Alhamdulillah gw udah tobat dari kesalahan… sandal crocs gw udah jadi sandal buat solat doang… bukan buat jalan lagi… *ehsamaajaya* hahahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s