Ada

Kata orang Jawa, sampai dengan 40 hari, arwah seseorang yang meninggal dunia masih ada di sekitar rumahnya. A house is where the body stays, but a home is where the heart lives, and I’m pretty sure that she’s still around. Kadang-kadang aku masih seperti merasakanmu di sekitarku. Tadi pagi pun, saat berangkat ke kantor, sepertinya aku lihat sekelebat sosokmu duduk di kursi penumpang. Aku kemudian menolak untuk menoleh ke arah situ sekadar untuk menikmati perasaan bahwa kamu masih duduk di sebelahku. Perasaan yang menyenangkan. Hangat, seperti Diana. Tapi bukan keberadaanmu yang kupahami sebelumnya. Sebentar lagi 40 hari, berarti sosok rohanimu akan segera pergi meninggalkan rumahmu. Berpindah ke jagad selanjutnya. Semoga kamu selamat sampai tujuan. Aku kadang masih tak percaya “ada” fisikmu yang dengan mudah dapat kupahami, sudah tak lagi nyata. Ya memang kenangan dan semangatmu akan tetap hidup, tapi “ada” bukanlah sesuatu yang bisa kuhubungkan dengan dirimu. Dengan sepenuh hati aku merindukanmu seutuhnya. Peluk hangatmu, cium mesramu, tawa riangmu, senyum tulusmu, segala yang ada lekat padamu, takkan lagi bisa kuindera. Meskipun kupaksa logikaku untuk mengendalikan alam psikisku, sesungguhnya ragaku yang masih belum bisa melepaskan ketergantunganku terhadap kamu. Meski logikaku bisa mengalahkan kebutuhanku akan rokok, tampaknnya mengalahkan kebutuhanku akan kamu ada di level yang berbeda. Aku bisa berkata pada diriku sendiri, “Tidak, kamu tidak butuh rokok, kamu tidak pernah membutuhkan nikotin beredar di darahmu”. Tapi aku ragu bisa berkata, “Tidak, kamu tidak butuh Diana, kamu tidak pernah membutuhkan Diana menyusup dalam nafasmu”. Tidak bisa. Paling tidak, akan jauh lebih sulit dari rokok. Yang bisa aku lakukan cuma mendoakanmu supaya selamat sampai tujuan, lalu mengenangmu. Itu saja. Sebisa mungkin aku perkenalkan sosokmu yang luar biasa itu kepada Tara, tapi aku tidak janji dia bisa mengingat “ada” mu secara utuh, bahkan aku hanya bisa berharap dia mengingat sedikit, sekelebat bayangan “ada” mu. Kalau kamu mau, hadirlah lagi dalam Tara, biar aku tetap bisa menjaga “ada” mu dalam bentuk yang lebih mudah dipahami. Sekarang ini aku terlalu bodoh untuk memahami eksistensimu, seperti halnya otakku takkan cukup untuk memahami keberadaan Tuhan, seperti halnya takkan mungkin bisa memindahkan seluruh isi lautan ke dalam tempurung kelapa. Aku kangen kamu.

10665185_10152383128668873_5385381187974093024_n (1)

Iklan

Satu pemikiran pada “Ada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s