Sister for Life (My Sister’s Writing)

Sudah beberapa hari ini saya tidak menulis. Belum ada topik yang menarik lagi.

Siang ini, tanpa ada angin, tanpa ada hujan, tulisan ini muncul di newsfeed Facebook saya. Adik saya menuliskan tulisan yang membuat saya harus bersembunyi di sebuah ruang kosong di kantor untuk… *sinyalputus.

Damn you, Reno!

Ya sudah lah, saya copy paste tulisan itu di sini, semoga yang menulis tidak bekeberatan.

Mungkin ini tulisan saya yang paling lama saya selesaikan..meskipun sudah sangat banyak kata yang terangkai dalam pikiran. Kadang saya sempat dan sampai hati mencatat kata-kata itu di fitur notes HP saya, kadang lupa, atau saya lupakan, dan tidak sedikit kata yang tidak sanggup saya tuliskan. Konsep tulisan ini saya mulai tuliskan tanggal 29 Maret 2015 dan baru selesai sekarang.

Ketika kakak saya tercinta Diana Mandasari berpulang kepada yang mengantarnya ke dunia ini, Senin, 23 Maret 2015; perasaan saya kurang lebih sama dengan hari 2 Juli 2006 ketika Bapak saya sampai pada ujung perjalanannya. Tuhan pasti punya alasan untuk memberi saya 2 hari istimewa itu. Tuhan juga pasti punya alasan untuk memanggil 2 orang dalam daftar prioritas hidup saya dengan cara yang hampir sama. Dia panggil mereka begitu cepat (bahkan rasanya, terlalu cepat Dia panggil kakak saya), tanpa sakit yang muncul sebelumnya, tanpa pertanda yang bisa kami tangkap sebelumnya.

Pukulan sekaligus anugerah yang luar biasa untuk keluarga kami.

309981_10151429967258873_392558261_n

Terlalu banyak orang yang mengira saya dan Mbak Diana saudara sekandung, karena kami memang cukup mirip, berkacamata dan potongan rambut yang sering serupa. Terlalu banyak juga orang yang melemparkan komentar “Kamu kok bisa akrab banget ya sama kakak iparmu, biasanya kan suka ribut,”. Kalau saja kamu kenal Mbak Diana, kamu pasti tahu mengapa hubungan kami sangat dekat -bahkan kami memutuskan untuk tinggal dalam 1 rumah selama 2 tahun terakhir. Itu tidak termasuk waktu dia menerima saya yang sedang hamil-dan suami jauh- untuk tinggal di apartemennya, padahal waktu itu dia belum menikah dengan kakak saya. Dia yang mengantarkan saya periksa ke dokter kandungan untuk mengkonfirmasi hasil test pack saya. Dia yang memasakkan cumi item kesukaan saat saya dilanda ngidam dan masakan-masakan lainnya karena saya sama sekali tidak sanggup mencium aroma masakan selama hamil muda. Dia partner berbelanja, praktek resep, mengurus rumah tangga. Dia mengasihi Tantra sebagaimana anaknya sendiri. Dia menyayangi Ibu, adik dan suami saya. Yang terpenting, dia mencintai, menerima, merawat, menemani dan menjaga kakak saya sepenuh hatinya selama 13 tahun terakhir. Dia seperti kakak perempuan saya sendiri.

Things are better if you stay, Kakak. Berulang kali terlintas kata-kata itu. Terlebiih dengan rencana mutasi pekerjaan saya dalam waktu dekat.
Saya khawatir, tentu saja.

Yang menguatkan saya sesungguhnya adalah 2 orang yang paling saya khawatirkan sepeninggal Mbak Diana, Tara dan kakak saya. They both make a good team, a very good one.

Saya dan Mbak Diana selalu bersyukur karena kami punya suami yang bisa menjadi partner dalam mengasuh anak kami masing-masing. Mereka dengan senang hati memandikan, menyuapi, mengganti baju, mengajak bermain, menidurkan dan menenangkan anak-anak ketika rewel. Kami sangat menghargai itu. Setelah hari itu, porsi kakak saya dalam memenuhi aneka ria kebutuhan Tara otomatis bertambah banyak. Sekali lagi saya bersyukur karena kakak saya juga sudah terbiasa meladeni Tara. Untuk masa depan Tara, saya tau dia sudah menyiapkan tabungan asuransi dan lain-lainnya. Jujur saja tidak jarang saya diam-diam menangis ketika melihat kakak saya menyuapi Tara atau ketika dia menyiapkan baju dan pampers dan segala rupa untuk kebutuhan kami menginap di rumah Om dan Tante kami. Tapi ya sudahlah, memang dia harus bisa melakukan itu. Dia juga tau dia harus bisa melakukan itu. Kakak saya orang yang logis, kadang-kadang terlalu logis. Setelah ini dia pasti belajar menyeimbangkan perasaan dan pemikiran, demi dirinya sendiri dan Tara.

Tara. Anak itu hebat. Mungkin dalam keterbatasannya, dia masih belum mampu memahami benar-benar apa yang telah terjadi belakangan ini. Mungkin dia juga belum bisa mencerna seutuhnya penjelasan kami mengenai Ibunya : “Ibu bobok, pergi ke surga. Di surga Ibu seneng, banyak es krim sama muffin.” Tapi saya tau dia sudah tau bahwa raga Ibunya tidak hadir lagi bersamanya. Beberapa kali saya mendengar Tara  spontan berteriak “Ibu Dianaaaa” lalu langsung disambung dengan teriakan “Ibuu…Renooo..”. Atau tiba-tiba ketika saya menggendongnya, dia berkata “Mba Tara gendong Tante, enggak gendong Ibu.” yang selalu meninggalkan tenggorokan saya kesakitan.
Tara hebat karena dia sungguh membantu Bapaknya, paling tidak dengan cara makan dengan lahap, bilang kalau kebelet pipis, bangun tidur tidak menangis, dan prestasi terakhirnya, mau duduk di potty setelah selama ini selalu menangis. Semua orang bertanya di hari-hari pertama setelah Mbak Diana pergi, apakah Tara rewel? Saya sendiri sudah bersiap Tara akan rewel luar biasa. Ternyata tidak. Hari-hari selanjutnya, sampai hari ini, saya bisa bilang kadar rewel Tara masih termasuk wajar. Tuhan sudah mengatur Mbak Diana dipanggil-Nya setelah selesai menyapih Tara. Tara hebat karena dia menguatkan Bapaknya, dia menghibur Bapaknya, dan mengandalkan Bapaknya.

381921_10150450688998873_487369448_n

Hampir 40 hari sejak Mbak Diana berpulang. Masih sedih, sepi, tidak percaya, tapi hidup harus jalan terus, kan?

Saya tidak janji untuk tidak menangis lagi, tidak janji untuk tidak sedih lagi. Mana mungkin.

Tapi saya janji melanjutkan hidup dengan semangat dan cinta seperti yang dia contohkan.

Things are better if you stay (but God decided the other way), (I have to say) so long and good night, Kak.

Till we meet again. I do miss you so much. I love you.

Jakarta, 28 April 2015

Iklan

3 pemikiran pada “Sister for Life (My Sister’s Writing)

  1. Pagi hari setelah pulang dari Cilacap untuk nganter Yudhis, aku terpaksa memundurkan kepulanganku ke Jogja sehari gara-gara tenggorokanku sakit buat nelan, seperti kena radang. Takutnya kalau nggak fit dan naik pesawat malah semakin parah sakitnya. Tapi akhirnya aku tahu kalau sakit di tenggorokan itu bukan gara-gara kebanyakan rokok, kecapekan, atau mau kena flu. Tapi gara-gara dua hari sebelumnya aku ngampet mewek dan menahan tangis.

    Setelah membaca tulisan Reno ini aku harus mencari tempat untuk menangis tanpa ketahuan. Tapi aku puas, akhirnya aku bisa nangis. Akhirnya aku bisa nangisi kepergian Manda yang baru seminggu sebelum dipanggil Tuhan kami banyak ngobrol. Nangisi Bagas karena membayangkan rasa kehilangannya, untuk sebuah hubungan yang belasan tahun dia bangun. Nangisi mbak Tara yang nggak bisa nonton tv ditemani ibunya lagi. Nangisi Reno karena tulisannya yang mangkelke ini. Nangisi Yudhis karena kopi Wamena-ku habis. Nangisi Yoyok karena dia sama-sama botak. Nangisi mami Ami karena beliau selalu gampang nangis. Apapun alasannya aku nangis, tapi aku puas bisa nangis hari ini.

    Dear, Reno. Aku baru sadar mami Ami, kamu, Manda, dan pacarnya Yoyok saling mirip. Nggak tau kenapa, mungkin cuma kebetulan. Tapi yang aku sangat tau, kalian keluarga yang luar biasa. Keluarga dengan energi yang sempurna untuk saling terikat melalui simpati dan empati. Keluarga dengan tenaga super yang tidak pernah lelah untuk saling mengingatkan dan menguatkan. Dan tetaplah menjadi keluarga api yang sukses memaknai urip kudu urup.

    Heiiis.. Ketoke “radang tenggorokanku” kumat meneh.
    Secepatnya aku akan ke Jakarta bawain bir buat mas Bagas.

    Peluk hangat buat semua di sana. Tuhan sayang kalian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s