Khawatir

Sesungguhnya karena saya belajar Psikologi, selain semakin memahami hidup dan memahami diri sendiri, saya jadi jauh lebih banyak khawatir. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan Tara.

Kekhawatiran saya tentu saja karena tentang apakah saya akan mampu menjadi orang tua yang baik dengan menuntun dan menemani Tara di periode pembentukan kepribadiannya. Akankah ada dampak negatif dari absennya sosok ibu dalam kehidupannya. Berdasarkan Social Learning Theory dari Bandura, atau lewat sudut pandang Psikoanalisa Freud, saya sejujurnya bingung harus memandang proses hidup yang saya jalani ini dari angle sebelah mana, karena sejujurnya juga, saya lupa. Lha wong sudah hampir 15 tahun kok saya tidak memakai secara intens teori-teori itu. Salah sendiri. Kenapa berkhianat!

Tapi sewaktu saya kemudian menyadari, bahwa saya harus melakukan semua ini “sendiri”. Saya beri tanda kutip karena saya sadar, bahwasanya saya tidak benar-benar sendiri menjalani semua ini. “Bolomu akeh” kalau kata seorang teman di Facebook. Tetap saja saya merasa bahwa tanggung jawab utamanya ada di tangan saya, dan saya kebetulan tidak punya partner lagi, saya seakan tidak punya pegangan, dan harus mencari pegangan. Pegangan itu ada di ilmu yang saya pelajari semasa kuliah. Psikologi. Mulailah saya membaca-baca sedikit demi sedikit.

Semakin saya membaca, semakin saya khawatir. Semakin saya mempertanyakan diri sendiri.

Tampaknya memang saya butuh rekan diskusi. Dan tiba-tiba, tanpa ada hujan, badai, konvoi motor, pesta berdress code bikini dan penutupan jalan, saya di-invite ke dalam group whatsapp berisikan teman-teman saya saat kuliah dulu. Mungkin 60-70% dari keseluruhan teman saya kuliah dulu adalah perempuan. Jaman kuliah dulu, mungkin bisa disebut embak-embak imut, kalau sekarang ya namanya emak-emak. Moga-moga aja nggak punya ide touring dalam waktu dekat.

Di luar dari notifikasi bisa mencapai 500-an kalau terlalu lama ditinggal, menjadi anggota dalam group ini adalah sebuah kehormatan dan kemudahan untuk saya. Emak-emak yang menghuni group itu adalah psikolog, dan dosen, dan ibu rumah tangga, dan professional, yang banyak yang punya lebih banyak pengalaman dalam mengaplikasikan ilmu psikologi, khususnya dalam hal mengasuh anak, dibandingkan dengan saya. Maka saya seakan punya satu kelas penuh yang bisa memberikan pesan dan saran, terhadap ketidaktahuan saya. Seakan punya satu kompi konsultan. Sangar tenan!

Kemarin saya mengajukan pertanyaan mengenai dampak hilangnya sosok ibu dalam perkembangan psikologis seorang anak. Katanya, hilangnya sosok ibu itu bisa digantikan oleh role model perempuan siapa saja yang available. Yang penting ada “peran” bapak dan ibu dalam hidupnya. Peran belum tentu harus dilakukan oleh figur aslinya. Kebetulan memang Tara punya Nini yang berpengalaman membesarkan 3 orang anak, dan Tante yang pintar dan menyenangkan. Tara juga hidup dalam sebuah lingkungan yang sangat mendukung, juga penuh cinta.

Iya, Cinta. Itu yang paling penting.

Di tengah-tengah kekhawatiran besar saya itu, sesungguhnya saya lupa, dasar dari kepercayaan yang saya yakini hingga saat ini itu sejatinya bisa dipraktekkan dalam segala konteks. Termasuk dalam hal pengasuhan anak. Tak peduli kondisinya seperti apa, asalkan didasari oleh cinta, semuanya akan berujung baik. I’ll keep that in mind!

Setelah cinta ada kebahagiaan. Cinta adalah salah satu bahan dasar dari kebahagiaan, dan kebahagiaan adalah syarat lain dalam menciptakan lingkungan yang baik untuk seorang anak. Saya akan mendefinisikan sendiri kebahagiaan itu.

Kemudian hari ini saya menemukan beberapa quote menarik:

“someone else is happy with less than what you have.”

Terkadang ketidakbahagiaan itu disebabkan oleh ketidakbersyukuran seseorang terhadap keadaannya. Jadi memang harus bersyukur, apapun yang dimiliki saat ini. Jangan bersungut-sungut, syukuri dan jalani!

“life doesn’t go as it planned, and that’s ok.”

Kalau saya bisa merencanakan hidup, saya tidak akan merencanakan Diana pergi secepat ini. Hidup tidak berjalan seperti rencana, dan semuanya akan baik-baik saja.

Intinya, kekhawatiran saya mungkin justru berbahaya untuk Tara. Tampaknya saya harus berpasrah dan menjalani hidup hari per hari, one day at a time, dan tidak berhenti berproses selama perjalanan itu. Saya tidak akan bisa memahami hidup lewat hidup yang dijalani orang lain. Saya tidak akan bisa memahami hidup sekadar dengan memahami Maslow dan Freud dan Pavlov dan Eriksen dan siapalah itu namanya saya lupa.

Saya hanya akan memahami hidup dengan cara menjalaninya dan belajar darinya.

Baiklah. Mari berproses.

NB: Terima kasih untuk teman-teman Alumnus Psikologi UGM 2001. Kalian sangar-sangar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s