Adaptasi

Tara akhir-akhir ini lagi agak rewel dan cranky. Kelihatannya dia mulai merasa ada sesuatu yang hilang walaupun dia belum terlalu paham apa atau siapa yang tidak lagi hadir dalam hidupnya.

Di rumah ada dua orang anak berumur di bawah 3 tahun dan banyak orang bilang bahwa komperhensi kognitif mereka bagus. Tara dan Tantra selalu kami biasakan untuk mengungkapkan dengan benar apa yang mereka inginkan atau maksudkan. Sedari bayi tidak ada yang berusaha untuk menurunkan kemampuan komunikasi hanya karena mereka belum bisa berkomunikasi dengan baik. Tidak ada “endong” karena yang benar adalah “gendong”; tidak ada “obing” karena yang betul adalah “mobil”; tidak ada “cucu” karena yang benar adalah “susu”. Ditambah dengan banyaknya stimulus verbal yang beredar di dalam rumah, di usianya yang belum genap 3 tahun, masing-masing Tantra dan Tara sudah bisa berbicara dengan cukup baik.

image

Walaupun kami selalu mengondisikan Tara dan Tantra untuk berada dalam lingkungan di mana mereka harus berusaha mengejar level komunikasi sehingga kemampuan mereka semakin berkembang setiap harinya, tapi tampaknya apa yang Tara rasakan, terlalu kompleks, dia mengalami kesulitan untuk mengungkapkannya.

Beberapa hari yang lalu Tara terbangun di tengah malam dan langsung mencari Spiderman sambil menangis. Pernah dia minta segelas susu. Pernah juga Tara mencari Pocoyo dan Eli. Pernah juga Tara terbangun dan menangis, saat saya tanya apa yang dia mau, dia bilang “Mau ngupil aja…” Di situ kadang saya merasa bingung.

Kehilangan yang mulai ia sadari, tampaknya tidak semudah itu dipahami oleh kemampuan kognitifnya yang baru berkembang.

Kegalauan yang tak bisa dideskripsikannya, sesungguhnya bahkan berada di luar kemampuan kami untuk berkomunikasi.

Tampaknya, kali ini, kami memang harus belajar bersama.

Tempramen Tara memang agak keras dan emosinya cukup meledak-ledak. Tangis Tara menggelegar memekakkan telinga sehingga kerap membuat orang di sekitarnya panik. Tara juga tidak mudah menyerah dan menghentikan tangis, jika yang dimaui belum tercapai. Mirip ibunya.

Tara biasanya terbangun satu kali di tengah malam atau pada dini hari. Saat bangun tengah malam itu, keadaannya tidak jauh berbeda. Tangisnya akan membuat semua orang menjadi panik, dan bertanya-tanya apa yang terjadi padanya atau apa yang bisa dilakukan untuk meredakan tangisnya. Saya sudah agak hafal dengan perangai Tara dan bisa tetap tenang menghadapinya.

Biasanya saya akan menuruti apa yang dia minta sejauh realistis. Kalau tidak realistis, biasanya saya akan menawarkan untuk menukarnya dengan hal yang lain yang sekiranya bisa meredakan kebingungannya. Akhir-akhir ini yang paling efektif adalah “nonton Cinta Cinta”, begitu dia menyebut lagu yang saya buat untuk ibunya. Setelah kebingungannya reda, maka “peluk Bapak” atau “gendong Bapak” adalah penutupnya. Setelah itu dia akan kembali tidur. Saya bangga lho, bisa jadi bapak yang pelukannya cukup manjur. 😀

11059344_10152779839813873_292790841376166136_n

Tara yang sudah punya banyak keinginan tapi belum bisa menyampaikannya dengan baik pasti berada dalam kondisi frustrasi, dan ini alamiah. Kondisi frustrasi ini akan bertambah terkait dengan hilangnya sesosok tercinta yang hilang secara fisik dari hidupnya. Saya akan harus memahami jika emosinya akan menjadi lebih labil dan moodnya juga tidak terlalu bagus beberapa waktu ke depan. Ini tantangan berat untuk saya.

Memahami, menurut saya bukan berarti meladeni semua permintaannya, atau menuruti semua tuntutannya. Memahami, menurut saya lebih ke arah bisa bersikap dengan tepat, berhadapan dengan seorang batita yang bingung di tengah temper tantrumnya. Saya tahu, bahwa saya harus bersikap lembut dan penuh perhatian, tapi di sisi lain saya juga tahu bahwa saya harus tetap bersikap tegas, bahkan terkadang keras. Keseimbangan adalah tantangan yang selanjutnya.

Bagaimana cara kami menjawab tantangan dan melewati semua ini tentu saja akan membentuk kami ke fase hidup yang selanjutnya. Adaptasi adalah sebuah proses yang menyakitkan, dan saat ini kami sedang berproses. Saya sadar banyak sekali yang harus saya pelajari berkaitan dengan Tara, mulai dari inventarisasi popok, memotong kuku, potty training, sampai membersihkan kotoran pasca BAB, saya masih termasuk pemula untuk semua hal itu.

Semoga kami bisa melewati semuanya dengan baik. Kita berproses bersama ya, Wuk…

image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s