Sumpah dan Pisau Bedah

Sama aku terus ya…” begitu dia bilang.
“Ya iya lah…mau sama siapa lagi?” biasanya begitu saya jawab.

Hampir tiga belas tahun kami bersama. Hampir sepuluh tahun kami pacaran, hampir tiga tahun kami menikah. Sepanjang itu Diana menjadi bagian dari hidup saya.

Saya bukan orang yang romantis yang punya segudang kata-kata mesra untuk merayu wanita. Saya bukan orang kaya atau bukan anak orang kaya yang bisa memanjakan pasangan saya dengan cincin berlian, handbag mahal dan jalan-jalan ke Eropa setiap enam bulan sekali. Saya tidak punya wajah tampan dan tubuh atletis yang pantas dipajang dan sedap dipandang di halaman-halaman majalah. Saya keras kepala, tampak tak punya tata krama, bermulut tajam, dan angkuh. Tapi tetap dia memilih saya sebagai pasangan hidup.

Semoga dia tidak pernah menyesali pilihannya. Semoga dia tidak pernah menyesali keputusannya untuk menghabiskan sekian banyak waktu dengan saya. Semoga. Karena tidak akan ada yang bisa tahu.

Puji Tuhan, sampai detik ini, saya belum pernah mengkhianatinya, dan saya bangga akan itu. Tidak saat masih pacaran, tidak setelah menikah. Apalagi setelah menikah, selepas saya mengucap sumpah dan menerima kalimat “Apa yang dipersatukan oleh Tuhan janganlah diceraikan oleh manusia.” Urusannya sama Tuhan. Takut.

Sambil bercanda, kadang saya iseng bertanya, “Kalau aku ternyata selingkuh gitu, gimana?”
Jawabannya cuma, “Kamu tau kan kalau aku punya pisau bedah dan kamu kalo tidur masih bareng aku? Ya diinget-inget aja…”

Ngilu.

Tapi bukan itu yang menjauhkan diri saya dari perselingkuhan. Yang pertama saya ini malas repot, ogah beromantis-romantisan dan bermanis manja untuk berusaha mendapatkan hati orang lain yang bukan pacar atau istri saya. Saya merasa tidak punya cukup waktu dan energi. Yang kedua saya hanya tidak pernah punya role model yang selingkuh. Jadi kalau saya sudah terikat dengan seseorang, saya akan berhenti mencari. Yang ketiga, pisau bedah itu emang tajem banget lho!

Bapak saya menikah dengan ibu selama 24 tahun. Selama 24 tahun itu tidak pernah sekalipun saya mendengar cerita bahwa Bapak menduakan cintanya kepada ibu. Saya merasa beruntung untuk menjadi saksi devosi cinta yang sedemikian rupa sehingga bisa menirunya. Bapak saya memang tidak cukup lama hidup di dunia untuk bisa berbagi pengalaman hidup berumah tangga, atau meninggalkan cukup banyak materi untuk modal saya memulai rumah tangga, tapi sesungguhnya pesan dan modal lewat teladan hidupnya cukup dan tetap hidup hingga detik ini.

Hari ini, seharusnya adalah ulang tahun perkawinan Bapak dan Ibu saya, dan tampaknya tidak terlalu berlebihan jika pada hari ini saya merayakan kejujuran dan kesetiaan. Dua nilai penting yang terus menerus ditekankan dan diteladankan oleh orang tua saya dan sampai sejauh ini belum pernah membuat saya mengalami kerugian.

Semoga semua orang tetap bisa mencinta dengan setia.

Happy anniversary, Pak & Bu!

image

Iklan

Satu pemikiran pada “Sumpah dan Pisau Bedah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s