It’s All in Your Mind

Ini hari ke-61 saya tidak merokok.

Sepanjang 13 tahun saya bersama dengan Diana, tidak pernah sekalipun dia pernah melarang saya untuk merokok, atau menyuruh saya untuk berhenti merokok. Padahal dia dokter. Padahal dia tahu bagaimana berbahayanya rokok untuk saya dan orang-orang di sekitar saya. Tapi dia tidak pernah menyuruh saya berhenti merokok. Dia bilang, “Nggak ada gunanya aku nyuruh-nyuruh kamu berhenti, aku penginnya kamu berhenti karena kamu pengin berhenti…” dan memang setiap kali saya mencoba berhenti, selalu karena saya sendiri yang ingin berhenti.

Saya mulai merokok di usia 16 tahun, kelas 2 SMA, di rumah seorang teman. Sebatang Star Mild waktu itu, dan saya ingat betul rasanya terkontaminasi nikotin dan tar untuk pertama kalinya. Keringat dingin, kepala saya berputar, mual parah. Sangat tidak nyaman. Tapi entah kenapa saya ulangi lagi setiap hari untuk 15 tahun ke depan.

image

Peer Pressure mungkin istilah yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan ini. Ya, sebagian besar teman saya merokok, maka for the sake of blending in, saya merokok. Selepas kuliah pernah saya berhenti, selama setahun penuh. Tapi di  pekerjaan pertama saya, semua orang juga merokok. Maka saya kembali merokok. Begitu labil.

Kasihan, manusia itu.

Sekarang saya berhenti merokok (lagi). Tepat sebelum dia pergi. Saya ingat betul dan akan selalu mengingat senyum bangganya setiap kali mengingatkan bahwa saya sudah sekian hari tidak merokok. Dia menjadikan setiap hari saya tidak merokok sebagai monumen dengan mengingatkan saya bahwa saya sudah “sekian” hari tidak merokok. Agak annoying pada saat itu, tapi sekarang saya merayakannya.

Kelihatannya di tahun 2015 ini, berhenti merokok akan agak lebih mudah. Paling tidak sejauh yang saya rasakan sampai saat ini. Tidak di sembarang tempat siapa saja bisa dan boleh merokok, iklan rokok berkurang, dan gambar yang ditunjukkan di bungkus rokok itu juga sesungguhnya cukup mengganggu. Masyarakat semakin tidak suportif terhadap perokok, dan perokok juga mempunyai image yang semakin tidak positif (agak ngeri pake istilah “negatif” disini)

Berkenaan dengan peer pressure, kalau ada yang bilang, “Ngerokok dulu biar nggak cupu…” atau, “Nggak ngerokok nggak jantan…” pasti mereka adalah individu-individu peninggalan tahun 90an.

Di tahun 90an, tolak ukur “keren” adalah “rusak”. Semakin rusak seseorang, semakin keren. Jadi kalau tidak (minimal) merokok, maka kamu tidak keren, semakin “make” semakin “junkie” semakin keren. Tampaknya silogisme ini berubah total di tahun 2015 ini, tolak ukur “keren” adalah “sehat”. Semakin sehat seseorang, semakin kerenlah dia. Jadi kalau social media dipenuhi dengan laporan seberapa jauh seseorang lari, atau berenang, atau bersepeda, semakin keren lah dia. Orang-orang yang fit as shit adalah orang-orang yang f*ckin cool! Yang tidak sehat dan tetap dianggap keren adalah harga apparel pendukung olah raga. Sama sekali tidak sehat!

Anyway, karena saya ini orang yang trendy dan gaul, masa kini dan happening banget, maka saya berhenti merokok dan memperbanyak lagi olah raga. Sepeninggal Diana, tekad untuk menjadi lebih sehat menjadi lebih besar. Hanya tinggal saya, tempat bergantung si gadis kecil berkening lebar pemikat hati semua orang, maka saya berusaha menjaga hidup saya untuk menjaga Tara. Semoga usaha saya ini tidak kandas di tengah jalan lagi.

image

Sebenarnya perginya Diana membuat saya agak-agak lebih paranoid (sungguh saya tidak bisa menemukan kata lain yang lebih ringan) menjalani hidup. Secara agak-agak impulsif, sewaktu saya mampir ke Bank tempo hari, saya membukakan account asuransi baru untuk Tara, dan masih ingin menambah lagi. Saya benar-benar ingin Tara punya pegangan yang cukup untuk menjamin masa depannya, jika saya tiba-tiba harus pergi seperti Diana.

Sekali lagi, tidak ada yang tahu bagaimana rencana Tuhan.

Well, “it’s all in your mind”, kata Anggun C. Sasmi, tempo hari. Memang hanya ada di pikiran saja kekhawatiran saya itu, tapi tampaknya saya punya alasan yang cukup untuk berpikir seperti itu. “It’s all in your mind” juga sebenarnya berlaku dalam bagaimana saya berhenti merokok, seorang teman berkata kepada saya, “Just act like you’ve never needed it. Just act like you’ve never smoked before.” Kemudian saya menjejalkan pikiran bahwa, saya tidak pernah merokok, dan saya tidak membutuhkan rokok. Maka sampai saat ini, manifestasi fikasasi oral itu belum (semoga tidak) menguasai diri saya lagi.

Menakjubkan bagaimana semuanya yang hanya ada di pikiran seseorang, bisa begitu mempengaruhi bagaimana seseorang hidup.

I’m going to say this, you have full control on yourself and your mind. Be a man and take full responsibility of it. #notetoself

Semoga saya bisa menjaga hidup sehingga bisa menjaga Tara dengan lebih baik.
image

Iklan

3 pemikiran pada “It’s All in Your Mind

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s