Tangis yang Tertangkis

Saya tidak bisa menangis. Sudah beberapa tahun ini saya tidak bisa menangis.

Dulu sewaktu masih ada Bapak, saya mudah menangis. Menangis haru, menangis putus asa, menangis sedih. Terlepas dari postur, perawakan dan wajah, menangis bukanlah hal yang sulit untuk saya. Itu dulu.

Tampaknya , kalau saya tidak salah ingat, dimulai dari saat saya mendengar berita bahwa Bapak meninggalkan kami semua, menangis adalah hal yang menjadi sangat sulit untuk saya. Di hari itu, saya harus bekerja keras mengumpulkan memori dan bayangan mengenai Bapak hingga saya bisa benar-benar menangis. Tidak ada “TIDAAAAAAAK…” dengan kamera swing up berputar ala opera-opera sabun Indonesia. Saya harus berusaha untuk benar-benar bisa menangis.

Semenjak saat itu, seingat saya, frekuensi saya menangis bisa dihitung dengan jari tangan saja. Seberat dan sesulit apa pun yang terjadi, saya tidak bisa menangis. Jangankan kata-kata motivasional di training leadership atau adegan mengharukan di film-film. Kehilangan teman dan kerabat pun, saya tetap tidak bisa menangis. Ingin saya menunjukkan pada dunia bahwa saya ikut bersedih dengan air mata, tapi maaf, tidak bisa.

Mungkin itu adalah mekanisme pertahanan diri bawah sadar saya yang bekerja (*sok Freudian). Tapi tampaknya hal itu bekerja dengan cukup baik. Tawa, senyum, cinta dan bahkan amarah terbukti jauh lebih efektif dalam menghadapi hidup.

Lalu datang hari itu. Hari di mana seorang malaikat kecil hadir di dekapan tangan saya dengan amuk tangisnya yang menggelegar. Malaikat kecil yang selanjutnya menjadi sumber kekuatan saya dan alasan mengapa saya bangun di pagi hari.

Setelah itu, semakin saya kehilangan alasan untuk menangis.

Setelah itu, semakin saya punya alasan untuk tidak menangis.

67349_10151345629708873_603968935_n (1)

Sampai datang kemarin. Hari di mana dia meninggalkan saya.

Tetapi tetap saya tidak bisa menangis seketika. Harus saya kumpulkan terlebih dahulu semua memori dan bayangannya, baru saya bisa benar-benar menangis. Itu juga hanya untuk sesaat.

Menurut saya, menangis itu seperti mabuk. Saat mabuk, kesadaran hilang tertelan alkohol atau bahan memabukkan yang lain. Saat menangis, kesadaran juga hilang tertelan emosi. Walaupun terbatas, saya mengonsumsi alkohol. Tidak bisa saya melarang adik-adik saya, jika mereka ingin mengonsumsi minuman beralkohol juga. Dari dulu, saya selalu berkata,

“Kalau mau minum, silakan. Tapi mendingan minumnya sama aku…Soalnya apapun yang terjadi, akan selalu ada aku untuk jagain kalian…”

Jadi, semabuk apapun saya, pasti saya tetap berusaha mengingat dan memikirkan semua hal dan semua orang.

Mungkin sama kondisinya saat saya harus menangis. Saya merasa tetap harus berpijak di atas bumi dan berpikir dengan logis untuk semua hal dan menyelesaikan masalah dengan cepat. Jadi takkan bisa saya menangis yang begitu larut dan membiarkan diri saya hilang dalam kesedihan, seperti halnya takkan bisa saya mabuk sampai kehilangan barang-barang berharga. Sekali lagi, saya berlagak seperti orang terkuat di dunia. Tapi bukan, Gas. Bukan!

Kadang saya butuh menangis, tapi sekali lagi, saya tidak bisa dengan mudah menangis. Say iri pada Naysila Mirdad dan Nikita Willy karena bisa menjual tangis. Percayalah, saya ingin menangis, tapi untuk saya, menangis itu sulit.

Bantu aku menangis, Bu. Aku kangen kamu.

Iklan

Satu pemikiran pada “Tangis yang Tertangkis

  1. Gw belom jadi kirim email ke lo…. tulisannya gak selesai2… karena gw lebih heboh nangisnya daripada nulisnya… nangis seperti mabok? gw kayaknya udah mabok beneran inih… hehehehe… semoga lo bisa lebih lega dengan atau tanpa menangis… jaga kesehatan ya broo…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s