Memori dan Monumen

Manusia butuh monumen. Saya pernah menulis ini beberapa tahun yang lalu. Bahwa tidak mungkin untuk manusia bisa mengingat semua detail kehidupan, maka manusia butuh monumen sehingga bisa memfokuskan energi, perasaan dan pikirannya untuk mengingat dan merayakan sesuatu.2015-03-31 07.58.24

Akhir-akhir ini semuanya menjadi monumen untuk saya. Semua sudut rumah, setiap desir aroma, semua kelebat wajah, setiap jengkal kota, semua denting melodi, semua hal kecil yang ada dan saya temui dalam keseharian saya seakan menjadi monumen pengingat saya akan dia.

Terlalu banyak monumen, berarti tidak ada cukup ruang untuk berjalan.

Tidak ke depan, tidak ke kiri, tidak ke kanan, tidak ke belakang.

Tidak ada cukup ruang untuk berjalan

Berhenti.

Maka saya putuskan untuk memindahkan beberapa monumen.

2015-03-28 10.58.25

Belum sampai seminggu dia pergi, saya kosongkan isi lemarinya, saya pindahkan. Semua baju yang mengisi 3/4 dari keseluruhan 5 pintu lemari yang kami miliki itu, berpindah ke dalam tiga buah kotak hitam besar.

Ada beberapa yang tidak setuju dengan aksi saya itu.

Saya tidak setuju dengan ketidaksetujuan itu.

Tanpa ada tumpukan baju-baju yang terjahit dengan bau khasnya pun, semua baju yang saya miliki sendiri dan pakai sehari-hari, terus akan mengingatkan saya kepadanya. Kaos saya, dia yang membelikan. Jam tangan saya, dia yang memilihkan. Sepatu saya, dia yang menyetujui. Cincin di jari saya, dia yang menyematkan.

Tanpa ada onggokan kain-kain yang disimpannya pun, semua wajah yang familiar, bagaimanapun juga pasti akan mengingatkan padanya suatu ketika. Setiap jengkal dan sentimeter dari jalan-jalan di kota ini juga takkan bisa saya pisahkan dari memori akan dirinya.

Tanpa ada tumpukan baju-baju yang bisa tanpa sengaja memicu memori dramatis saya padanya pun, semua sudut rumah ini mengingatkan saya padanya. Terlebih lagi dengan adanya seorang makhluk indah yang senantiasa berlarian mengisi rumah ini dengan senyum.

2015-03-30 14.48.44-1

Saya sadar semua itu, dan sekali lagi, yang paling penting buat saya sekarang adalah bagaimana saya bisa berjalan terus ke depan demi kepentingan keajaiban kecil yang berada di dalam troli itu. Maka saya pindahkan beberapa monumen yang perlu saya pindahkan.

Saya lepaskan apa yang bisa saya lepaskan, berharap bisa mendapatkan apa yang perlu saya dapatkan.

PS:

Salah satu monumen yang perlu saya hindari dalam beberapa waktu ke depan: Beberapa hari lampau, saya coba menyanyikan lagu Daniel Bedingfield – “If You’re Not The One” ini hingga bait:

cause I miss you, body and soul so strong,

and it takes my breath away

and I dream you into my heart and pray for the strength today

cause I love you whether it’s wrong or right,

and though I cant be with you tonight,

you know my heart is by your side.

dan sudah, saya berhenti bernyanyi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s