Mengapa Saya Berhenti Bertanya “Mengapa”?

Sekitar empat tahun yang lalu, saya berhenti bertanya “mengapa” untuk hal-hal yang tidak dapat saya jelaskan.

Menurut saya, hidup ini seperti kaidah-kaidah jurnalistik. Hidup ini untuk sekadar menjawab 6 pertanyaan 5W 1H, What, Who, When, Where, Why dan How. Apa, Siapa, Kapan, Di Mana, Mengapa dan Bagaimana, Enam pertanyaan ini, ada dan disusun dengan urutan yang sedemikian rupa sehingga bisa menjelaskan suatu hal, atau mungkin segala hal dengan komperhensif.

Tapi sekitar empat tahun yang lalu, saya berhenti bertanya “mengapa”.

Mengapa saya berhenti bertanya “mengapa”?

Sebenarnya masih terkait dengan peristiwa 9 tahun yang lalu, saat saya kehilangan Bapak. Kepergian Bapak sungguh menimbulkan pertanyaan besar “mengapa” dalam benak saya. Mengapa Bapak harus meninggalkan kami? Mengapa sekarang? Mengapa jauh dari keluarga? Mengapa begini? Mengapa begitu. Terlalu banyak mengapa dalam benak saya, sampai kemudian saya diterima di sebuah perusahaan media besar, Kompas sebagai HRD officer. Mulailah saya meyakini, bahwa inilah mengapa Bapak harus pergi secepat itu, untuk memaksa saya dewasa lebih cepat. Untuk memaksa saya mengambil alih peran pemimpin dalam keluarga. Keinginan Tuhan dan arahan alam semesta tampak terang.

Mungkin.

Mungkin tidak.

Karena tiga bulan saya bekerja di Kompas, secara impulsif, suatu hari saya memencet tombol lift dengan kaki untuk menutup pintunya dan perilaku saya tersebut dianggap tidak layak untuk seorang HRD officer. Tidak layak untuk pemimpin keluarga. Sangat bodoh. Pemimpin tidak boleh bodoh.

Segala daya upaya dilakukan untuk menyelamatkan karier saya di tempat itu, namun percuma. Kontrak saya diterminasi, sehabis enam bulan masa percobaan saya.

Kembali saya bertanya, “mengapa”.

Sampai saat saya diterima di RCTI, kemudian mulai lagi saya berteori, mungkin ini jawaban dari “mengapa” yang sebelumnya. Bahwa alam semesta tidak melihat saya cocok berada di posisi saya sebelumnya di Kompas.

Mungkin.

Lima tahun berselang dari saat itu, saya berefleksi, dan menyadari bahwa saya sangat menikmati profesi saya sebagai professional media, dan profesi ini juga seakan membalas cinta saya dengan memberikan kesempatan-kesempatan yang luar biasa yang masih datang sampai detik ini.

Pertanyaan “mengapa Bapak saya pergi?” juga seakan menunjukkan jawabannya, bahwa alam semesta sebenarnya tidak ingin menyuruh saya untuk menjadi pemimpin yang maha agung di dalam keluarga, tapi untuk menuntut saya, adik-adik saya dan ibu, menjadi satu kesatuan yang utuh yang saling mendukung satu sama lain apapun yang terjadi.

Paham.

Saya Paham.

553406_10150887417823873_1200372228_n

Berhentilah saya bertanya mengapa. Karena ternyata pertanyaan itu bukan saya atau orang lain yang ada di dunia ini yang berhak untuk menjawab. Mengapa dalam hidup hanya bisa dijawab oleh waktu, alam semesta, Tuhan.

Mulai titik itu, saya menjadi sangat santai, nothing to lose, tanpa beban dalam menjalani hidup. Karena saya tahu, semuanya pasti akan ada jawabannya suatu hari nanti. Saya tahu, bahwa ada orang-orang yang mencintai saya secara tulus dan senantiasa ada untuk mendukung saya setiap waktu.

Saat saya ingin meresmikan hubungan saya dengan Diana, yang sudah berjalan selama 9 tahun (tanpa terputus satu hari pun) saat itu, ditentang oleh Ayahnya, mungkin karena agama, mungkin karena mata pencaharian saya, saya percaya semua pasti ada jawabannya. Maka kami pun tetap berjalan bersama.

Saat kami harus berjuang menata hidup, remah demi remah, sedikit demi sedikit, tidak pernah sedetik pun saya khawatir, karena saya yakin suatu hari nanti, kami pasti bisa mengingat hari ini dengan tersenyum. Kami pasti bisa menertawakan hal-hal lucu yang terjadi di tengah-tengah segala beban yang ada.

Saat harus mendapatkan kenyataan bahwa Diana, istri yang saya cintai, pergi untuk selama-lamanya pun saya sejujurnya tidak khawatir. Sedih luar biasa, serasa dunia runtuh seketika, tapi saya tidak khawatir, karena saya tahu suatu hari nanti saya akan bisa mengambil kesimpulan, apa jawaban dari yang terjadi hari itu, yang mungkin belum waktunya saya ketahui.

2015-03-10 09.55.23

Setelah “Why”, setelah “Mengapa” yang mungkin takkan terjawab hari ini juga,  terbitlah “How”, terbitlah “Bagaimana”.

Bagaimana saya harus menjalani hari ini dan hari-hari ke depan bersama Tara?

Bagaimana saya mengeloninya?

Bagaimana saya menyeboki Tara seusai pup?

Bagaimana jika Tara sakit?

Bagaimana mendaftarkan Tara sekolah?

Bagaimana saya harus menjalani keseharian saya?

Bagaimana, bagaimana, bagaimana…

“Bagaimana” akan harus saya jawab dengan sebaik mungkin, secepat mungkin sehingga terbukalah fase kehidupan yang sama sekali baru, di mana saya sudah punya jawaban untuk semua bagaimana yang belum terjawab hari ini, dengan harapan, pertanyaan “Mengapa” akan segera terjawab.

Saya yakin, setelah itu, akan timbul “Apa”, disertai dengan “Siapa”, “Kapan”, dan “Di Mana” lagi yang baru, yang sambil mencari tahu mengenai “Mengapa”, harus  saya segera jawab “Bagaimana”nya.

Let’s GO!

2015-03-18 07.06.28

Iklan

9 pemikiran pada “Mengapa Saya Berhenti Bertanya “Mengapa”?

  1. Hohohoho… Kamerad, sebuah pemikiran hebat tidak perlu jawaban dalam waktu singkat. Karena “mengapa” adalah pertanyaan yg sudah kita bawa sejak kita msh dalam rahim Ibu. Jawabannya akan terkumpul setelah referensi hidup ini lengkap hingga akhir… Saya yakin, saat itu setiap kita pasti tersenyum 😊

    1. makanya itu Kamerad, saya berhenti bertanya “mengapa”. Saya sadar bahwa jawabannya akan terpapar seiring berjalannya waktu… 😉
      Manusia cuma bisa sabar aaja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s