Indah di Ujung Jalan Itu

2015-03-25 06.35.17

Tidak percaya, saya harus membuat dua tulisan dengan tema ini, dua kali dalam hidup saya. Sembilan tahun yang lalu, sebuah tulisan mengenai Bapak saya yang dipanggil Tuhan secara tiba-tiba, saya buat dengan tajuk “Babe Gue Bukan Sembarang Babe” dan kali ini saya menulis lagi mengenai seseorang yang pergi dengan cara yang hampir serupa, istri saya, Diana Mandasari.

Hari itu, Senin 23 Maret 2015, adalah hari pertama istri saya masuk kerja di sebuah perusahaan farmasi setelah sekian lama libur dari rutinitas bekerja. Sepanjang hari dia terdengar sangat antusias dengan pekerjaannya yang baru. Dengan ruangan kerja pribadi, dengan rekan kerja yang baru, dengan fasilitas yang akan dia dapatkan. Hari itu dia sangat bahagia.

Ingin berbagi kebahagiaan, saya menjemput dia di kantornya yang baru. Pukul 17:00 WIB saya sampai di lingkungan kantornya di bilangan TB Simatupang Jakarta, dan menghubunginya lewat telepon,

“Bu, aku sudah sampai. Kamu sudah selesai belum?”

“Sebenarnya sih udah, Pak, tapi nggak enak, belum ada yang pulang, jadi sebentar lagi deh…” begitu katanya.

“Oke, aku parkir dulu deh, trus tak tunggu di bawah ya…” balas saya.

Kemudian telepon saya tutup.

Sekitar 25 menit kemudian, saya berusaha meneleponnya lagi, tapi tidak ada balasan. Oh, mungkin masih briefing terakhir di hari pertama, begitu pikir saya.

Lima belas menit setelahnya, saya telepon lagi karena saat itu angin terasa sangat kencang dan langit menunjukkan akan segera terjadi badai besar, saya khawatir kami akan mendapat kesulitan untuk kembali ke tempat parkir mobil jika tidak segera beranjak. Tapi satu-satunya badai yang terjadi hanyalah suara orang lain di ujung sana yang berkata,

“Pak Kristoforus, suaminya Ibu Diana?”

“Iya betul, ini siapa ya?”

“Saya dari bagian HRD, Pak. Ini Ibu Diana pingsan…”

Pause.

Dunia terasa terhenti sesaat.

Kekhawatiran saya besar karena beberapa bulan ini, istri saya mengalami beberapa episode kejang yang cukup mengerikan. Badannya kaku, matanya terbelalak sambil mengerang-erang. Setiap kali kejang itu terjadi sebelumnya, selalu ada saya untuk membangunkannya, tapi kali ini tampaknya tidak.

Saya takut.

Saya jarang sekali takut, tapi saat itu saya sangat takut.

Bergegas lari ke ruang kerja istri saya di lantai 4, dan menjumpai ruangan kerjanya sudah dikerubungi banyak orang. Dan ya, persis seperti yang saya bayangkan, istri saya terkujur kaku di kursi kerjanya. Saya optimis, karena walaupun tangan dan kakinya dingin, tapi tubuhnya masih hangat.

Saya coba cek denyut nadinya, tapi jari saya terbungkus optimisme, saya merasa masih ada denyut lemah di lehernya.

Saya minta untuk membaringkan istri saya di lantai dan mencoba untuk memanggil namanya, mengingatkan bahwa Tara, anak kami, menunggu di rumah. Tak ada respon.

Saya goncang-goncangkan tubuhnya. Tak ada respon.

Saya bahkan mencoba memberikan pernapasan buatan. Tetap tak ada respon.

Di situ mulai saya berlogika.  Mulai saya perhatikan orang-orang kantor di sekitar saya yang memandang dengan sorot mata kasihan. Mulai saya berpikir, ada beberapa dokter di situ, dan tampaknya tidak ada yang bisa mereka lakukan, berarti saya yang hanya Sarjana Psikologi ini juga seharusnya tidak bisa berbuat apa-apa. Mulai putus asa, saya bertanya kapan ambulance datang. Mereka bilang, masih terjebak macet. Mulai saya mengutuk Jakarta!

Ambulance akhirnya sampai dengan seorang paramedis dan seorang dokter junior, hanya untuk menyatakan bahwa, dr. Diana Mandasari, istri saya, ibu dari anak saya sudah meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Tiga kali saya bertanya, “Apakah tidak ada yang bisa dilakukan untuk menolong istri saya?” dan jawabannya konsisten, “Tidak.”

Tidak percaya.

Tidak terima.

Tidak bisa berbuat apa-apa.

Meragukan.

Menyangkal.

Memahami.

Menerima.

Ya sudahlah.

Secepatnya dengan remah-remah akal sehat yang tersisa, saya berpikir apa yang harus saya lakukan:

Surat-surat administratif.

Tempat di mana orang-orang bisa memberi penghormatan terakhir.

Persemayaman terakhir.

2015-03-24 14.22.27

Bergegas saya beri tahu ke beberapa significant others yang sekiranya bisa membantu saran, kehadiran maupun sebatas menyebarkan informasi. Berat sekali.

Saya putuskan bahwa jenasah istri saya akan dibawa keluar kota, entah Cilacap, kota kelahirannya, atau Yogyakarta, rumah saya.  Tapi sebelumnya istri saya harus mendapatkan perawatan terakhir, mandi, dan make up, di tempat yang bisa dijangkau dengan mudah oleh semua orang, terutama keluarga inti saya, tapi saya tidak mau anak dan keponakan saya terlalu dekat dengan istri saya dalam keadaan seperti itu. Maka saya putuskan untuk memindahkan jenasah ke Rumah Duka PGI Cikini yang dekat dengan rumah tinggal saya.

Maka saya tinggalkan dia di lantai kantornya untuk mengurus surat-surat. Lebih cepat lebih baik. Kasihan? Tidak. Dia bahkan sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Ya sudahlah.

Sekembalinya dari mengurus surat kematian, sudah banyak kawan dan saudara yang berkumpul di kantor itu. Luar biasa bantuan moral, tenaga, dan dukungan psikologis yang dikirimkan. Karena menunggu ambulance lain untuk menjemput jenasah akan terlalu lama di tengah lalu lintas Jakarta yang jahanam  itu, maka kami bawa sendiri jenasahnya ke Rumah Duka yang dekat sekali dengan rumah saya.

Sukses saya menjemput istri saya hari itu. Tapi sepanjang perjalanan pulang  dia diam. Tapi sepanjang perjalanan pulang dia tidur. Dia tidur dan tidak bangun lagi.

20696_10152773726538873_6691192149939898106_n

Ah…berat sekali untuk bisa menulis ini semua, tapi mungkin lebih  baik ke depannya, karena kalau ada orang bertanya, “Bagaimana Diana pergi?” saya bisa balas dengan memberi tautan saja. 😀

Pendekatan standar jurnalisme televisi Indonesia: ada firasat apa? Banyak sebenarnya, tapi menjadi tidak penting, karena sekali lagi, seperti saat Bapak saya pergi, saya tidak akan berusaha mengingat bagaimana dia meninggal, saya ingin mengingat bagaimana dia hidup!!! Karena Diana adalah orang yang sangat hidup, dan semangatnya juga tetap akan hidup di dalam hati dan pikiran kami. Sampai kapanpun juga.

Saya mengenalnya selama 15 tahun, dan kami sudah bersama selama 13 tahun. Sepuluh tahun berpacaran dan 3 tahun kami mengikat janji perkawinan, tak sekalipun saya pernah melihat Diana menyerah. Kadang saya putus asa jika harus meyakinkannya untuk mengubah pikiran.

941809_10151473631043873_1869815434_n

Diana adalah orang yang sangat baik hati dan sangat mudah untuk dicintai. Cerdas dan tekun, jujur dan sederhana, setia dan berdedikasi tinggi. Saya bisa menghabiskan 21 halaman ke depan hanya untuk bercerita mengenai kebaikannya, namun tampaknya dengan ini saja sudah cukup menggambarkan seperti apa istri saya. Dokter Diana adalah seorang yang luar biasa. Sebuah anugerah, seorang malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk dunia ini, dan kebetulan saya yang beruntung untuk dicintainya.

Kisah hidupnya tidak selalu indah, kisah cinta kami tidak terlalu mulus, tapi bahkan di tengah-tengah situasi yang tersulit pun, Diana selalu bisa menyiarkan senyum tulus untuk mewarnai dunia. Dan kami tahu, bahwa ia pun ingin kami menyebarkan senyum, dan tak mau terlalu lama larut dalam tangis. (Walau tetap saja sulit membendung tangis saat menulis tulisan ini)

Semua ada hikmahnya, semua akan indah pada waktunya, Tuhan punya caranya sendiri, this too shall pass. Sesungguhnya tanpa harus disampaikan oleh siapapun, saya hidup dan menjalani kata-kata itu. Bahwa 9 tahun lalu saya harus kehilangan Bapak, lalu enam bulan kemudian kehilangan pekerjaan pertama karena memencet lift dengan kaki (saya ceritakan itu di lain tulisan jika berkenan), dan hari ini saya mendapati semuanya ternyata baik-baik saja. Kehilangan Bapak bukan berarti kehilangan penuntun jalan, kehilangan pekerjaan bukan berarti kehilangan masa depan.

Entah apa lagi yang alam semesta dan Yang Maha Besar ingin sampaikan dengan cara yang begitu ekstrem kepada saya, tapi saya tahu semua akan baik-baik saja, dan saya paham bahwa apa yang tidak membunuh hanya akan membuat saya makin tangguh.

Mungkin dulu waktu Bapak saya pergi dan saya kehilangan pekerjaan pertama, alam semesta ingin saya belajar mengenai maskulinitas secara maksimal. Tuhan ingin menempa saya untuk menjadi kuat, untuk memimpin, untuk menjadi benteng bagi orang-orang yang saya sayangi. Kali ini istri saya dipanggil lebih dulu mungkin demi memaksa saya untuk belajar mengenai kebaikan hati, kelemahlembutan, dan cinta. Belajar mengenai feminimitas. Tapi masak gini caranya sih?

946283_10151429064698873_311027854_n

Ya sudahlah. Semua cuma “mungkin” semata, hanya waktu yang bisa menjawab. Sekarang fokus saya adalah Tara, putri kami semata wayang. Segala tenaga, daya upaya saya, akan saya curahkan untuknya.

Mengenai Tara, saat harus menunjukkan jenasah ibunya sebelum peti ditutup dan menjelaskan bahwa “Ibu sudah bobo dan tidak bisa gendong Mbak Tara lagi” adalah sangat berat, dan menjelaskan bahwa “Ibu bobo, tidak bangun lagi, masuk terowongan ke Surga (karena dia melihat peti ibunya dikubur)” untuk pertama kali, merupakan hal yang menyiksa. Tapi tampaknya dia paham, bahwa ke depannya, hanya ada Bapak, dan tidak ada Ibu. Bahwa bobo, setelah tidak bisa mimik ibu lagi (baru saja Tara selesai disapih), bobo juga tidak akan bisa peluk ibu lagi, cuma ada peluk Bapak, juga bisa dipahami dengan baik. Terbukti Tara bisa tidur dengan nyenyak hanya dengan dipeluk, tanpa harus minta mimik Bapak #yakali.

Pada akhirnya saya harus merasa lega bahwa istri saya, dr. Diana Mandasari, dipanggil Tuhan dengan cara yang hampir sama dengan Bapak saya, cepat dan tanpa rasa sakit. Saya tahu bahwa dia berada di tempat yang lebih baik somewhere out there. Saya juga percaya dia tidak akan mau melihat kami semua terlalu lama larut dalam tangis dan air mata, saya percaya dia ingin kami menjalani hidup kami dengan sebaik mungkin segera. Maka saya merasa bahwa saya harus senantiasa mengingat bagaimana dia hidup, bukan bagaimana dia pergi. Maka saya merasa bahwa profile picture hitam di media social saya tidak seharusnya bertahan lama. Puji Tuhan juga saya dilahirkan dalam sebuah keluarga yang sudah berproses sedemikian lama sehingga bisa mempunyai waktu pemulihan yang begitu cepatnya, terutama karena kami terbiasa mendukung satu sama lain.

11081236_10203843323505941_7340755184225126780_n

Terakhir saya harus mengucapkan terima kasih banyak untuk semua pihak yang membantu dan mendukung kami di salah satu momen terberat dalam hidup kami dan memberi perawatan dan perlakuan yang layak untuk istri saya. Semua orang dengan segala detail yang menyampaikan dukungan dan support secara fisik, material dan kehadiran, maupun secara psikologis melalui pesan tertulis maupun media social. Hanya kata terima kasih yang saya, mewakili keluarga, bisa sampaikan kepada semua orang yang sudah berperan di sini, dan semuanya sungguh berarti. Tuhan tahu indahnya kebaikan anda dan Tuhan juga yang bisa membalasnya.  Bahagia dan bangga mengetahui bahwa Diana dan kami sekeluarga dicintai banyak orang.

Saya pun ingin meminta maaf untuk semua kesalahan dalam bentuk perilaku dan perkataan yang pernah istri saya lakukan, sekali lagi karena dia pun hanya manusia biasa.

Diana sekarang sudah pergi dan tidak akan kembali lagi, namun semangat dan cintanya akan terus kami hidupkan.

383661_10150450688648873_1261110880_n

Salam hangat,

Kristoforus Aryo Bagaskoro

Suami dari Renata Diana Mandasari (1 November 1984 – 23 Maret 2015)

Iklan

69 pemikiran pada “Indah di Ujung Jalan Itu

  1. Bagaaaaaaas,
    There is no other beautiful word than this : “Indah di Ujung Jalan Itu”

    Tuhan sayang Diana, sangat.
    Dan Tuhan pun akan terus mendampingi kamu dan Tara, karena DIA juga sayang kalian, amat.

    GBU

  2. Biarkan semua diatur Tuhan, mas. Tara mungkin tak banyak ingat tentang mamanya, tapi dari kamu dia akan belajar bagaimana menjadi wanita tangguh seperti alm. mbak Diana. Tangan Tuhan tak akan beranjak dari kalian… 🙂

    -Widya Psi ’03-

  3. Biarkan semua mengalir seperti rencana Tuhan, mas.
    Tara mungkin tak banyak ingat tentang ibunya, tapi darimu dia akan belajar menjadi tangguh dan berdedikasi, seperti alm. mbak Diana.
    Tenanglah, tangan Tuhan tak akan beranjak dari kalian… 🙂

    – Widya Psi ’03 –

  4. Mas Bagas,
    Thanks for sharing. Saya teman SMA Diman, dan kita pernah ketemu sebelumnya di Soto Pesanggarahan. 😀
    Buat saya Diman sangat menginspirasi, sosok yang periang, pintar, ramah. Sama seperti tulisan ini yang menginspirasi banyak orang menjadi tegar dan terus maju saat kita diuji.
    Gbu n Tara. Diman sudah bahagia disana.
    Salam.

  5. :”)

    Aku baru kenal Mas Bagas dalam hitungan hari, kenal (almh) Mbak Diana baru 1 hari. Tapi kenapa dadaku turut sesak sejak awal dengar berita ini ya? Nggak ada kata-kata khusus yang bisa aku sampaikan, paling hanya kalimat standar, semoga Mas Bagas dan Tara diberi kekuatan dan keikhlasan untuk menghadapi hari-hari ke depannya. Tapi kalimat ini, sungguh aku ucapkan dari lubuk hati yang paling dalam 🙂

  6. Bro Bagas,
    Saya berdoa agar mas dikuatkan dalam perjalanan hidup, dimudahkan dalam menemukan hikmah dan dibahagiakan dengan mudah.

    Tuhan sudah menghadirkan cara yang istimewa untuk menuntun bro Bagas ngejalanin hidup, bukankah dalam bahasa Sansekerta, TARA bermakna Cara Yang Istimewa?

    Salaam buat Tara, mudah2an bisa silaturahmi dan ketemu ya Om 🙂

    Salaam
    SelaluBahagia
    Qiu

    1. Bro Qiu,
      Sebuah kehormatan sudah dikunjungi dan didoakan. 🙂
      Semoga jalan istimewa mempertemukan kita utk bersilaturahmi, brother… 😉

      Terima kasih!

  7. melu kelangan ya bro
    meski ketemu ya mung sepisan kae nalikane nunut turu sewengi ning aku kelingan esem guyumu kr bojomu
    meski jujur aku sempat lali
    tulisanmu elok
    aku mung isa melu kelangan
    ning aja dadi atimu
    sing tatag ya
    kowe ora tau dhewean..

  8. Mas, saya menangis.

    Diman sosok yg begitu mudah dicintai banyak orang dengan keramahannya. Ah Mas Bagas pasti lebih mengenalnya.
    Saya tidak bisa berkata banyak (masih ada air mata pas mengetik ini).
    Be strong Mas Bagas dan Mbak Tara.

  9. Tuhan punya rencana yang indah buat mas bro dan dek tara..
    semangat menjalani sebagai seorang Ayah dan seorang ibu untuk dek tara..

    Saya Yogi mewakili dari keluarga Besar Jembangan dari Klaten turut berduka cita sedalam dalamnya.. semoga Ibu Diana bahagia disana. Salam hangat dari Ibu Ninuk dan Bp& Ibu darmono yang berada disurabaya…..GBU mas bro…..

  10. via fb..sangat terasa sekali gmn ibunya Tara sbg seorang pribadi,istri,ibu,teman di lingkungannya..dia memang msh muda tp yg ditinggalkannya lbh berarti…kamu jg ayah yg hebat utk Tara…Diana dan malaikat2Nya akan sll bsama kalian…Gbu n fam gas…turut mendukung kalian dlm doa..

  11. Turut berduka cita ya gas.. Gusti tansah paring sabar & kekiyatan.. She will be an angel, watching over you and Tara. Semoga Tuhan yg maha baik selalu menjaga kalian ya.. be strong koh gohan & adek tara

  12. Untuk Mas Bagas n Mbak Tara….

    Saya mungkin tdk mengenal dr.Diana Mandasari secara pribadi… bertemanpun hny di dunia maya (FB) krn 1 almamater ( sy seniornya atma 2000). Tapi terus terang, berita dukacita ini menyentak banyak orang tmsk saya. Dr tulisan2 yg diunggah di FB oleh tmn2nya tertangkap sosok DiMan adalah seseorang yg hangat, ceria n penuh optimisme… dan DiMan juga selalu dikelilingi oleh sosok2 yg hangat, terutama Mas Bagas dan Mbak Tara… amat sangat terlihat dari video dan tulisan di atas… saya yakin dan percaya DiMan skrg sudah berbahagia bersamaNya… smoga Mas Bagas, Mbak Tara dan slrh keluarga besar sll tabah dan bs selalu menghidupkan semangat dan cinta DiMan… GBU

  13. Turut berduka cita dari saya..saya tidak mengenal anda ataupun Diana..saya hanya mendengar cerita dari seorang teman Diana di kantor saya yg membagikan blog anda,krena saya begitu penasarannya dgn apa yg terjadi ketika teman saya menulis status di bb RIP Diana..Saya yakin Tuhan pya rencana utk anda walaupun rencananya misteri,di satu sisi saya melihat menurut pendapat pribadi saya anda adalah sosok yg sangat menghargai kehidupan dan cinta dan anda telah membagikan itu kepada kita semua utk lebih mensyukuri segalanya yang kita punyai..terlebih untuk waktu dan moment..GBU Bagas..salam kenal

  14. “Diana Mandasari, pribadi yang ceria, selalu penuh semangat …
    Setiap bertemu, selalu ada keceriaan, tawa canda dan juga optimis akan masa depan …”

    Malam itu, Senin 23 Maret 2015 sekitar jam 22.30an aku menyempatkan diri untuk membuka FB , dan sulit percaya Mas Bagas memberi kabar kalau mbak Diana Mandasari sudah berpulang ke rumah Bapa …

    Beberapa saat lamanya, saya terdiam … ndak percaya … samapi akhirnya istri saya bertanya, kenapa ? Saat ku jawab Diman – dr Diana Mandasari meninggal – istri pun terkejut …..

    Untuk memastikan berita ini, saya menelpon sahabat mbak Diman, dr Mungky – dan setelah mendapat kepastian tentang kepergian mbak Diman, kamipun larut dalam doa …

    Selamat jalan ya Diman … selamat berbahagia bersama Tuhan di Surga …
    Semoga berkenan menjadi pendoa untuk kami, teristimewa untuk Mas Bagas, juga Dik Tara

    Salam dan doa kami,
    Pak Yuli

    1. Nek njenengan wonten ting mriki, mesti ming jebol meneh bendungan air mataku, Pak…
      Matur nuwun sanget donganipun…terima kasih juga untuk persahabatannya… 🙂

  15. Hi Mas Bagas,

    Udah lama gak ketemu ya…Turut berduka cita sedalam-dalamnya ya..Semoga Diana bahagia di surga..titip salam untuk Tara dari Reiner (anakkulanang) 🙂

    -Tasya

  16. tersentuh bacanya, semoga Tara menjadi anak yang kuat, tegar n humoris seperti bapaknya, dan anak yang penuh cinta kasih, cerdas, seperti almarhumah ibunya. Aku yakin bahwa Tara akan sangat bangga memiliki bapak seperti mas Bagas dan ibu seperti mbak Diana, walaupun aku ga mengenal istrimu, tapi aku yakin dia orang baik, dan Allah lebih dahulu memanggilnya, karna Allah sgt menyayanginya…
    Titip salam untuk Tara.. anak manis, cantik dan pintar, dan pastinya lucu (nggak kayak bapaknya hihihii)

  17. Mas..
    GBU untuk Mas Bagas, Tara, & keluarga.

    Sampaikan salam untuk Tara tercinta. Smoga kelak bisa secerdas Mamanya dan setangguh Papanya.

  18. Dik Bagas…tante adlh adik angkatan mbak Amie di Sastra.Tante betul2 terharu mmbaca tulisanmu sekaligus berbesar hati melihat bgmn adik menyikapi segala ujian hidup ini. Tante yakin dik Bagas yg luar biasa pd gilirannya jg akan mampu mnjadi “Babe yg bukan sembarang babe” buat si kecil Tara. Semoga senantiada Tuhan akan mmbukakan pintu nikmat, rahmat dan keselamatan untuk kelrg adik. Amin3x…

  19. Jam… gw speechless…

    Gw belom pernah ketemu mbak Diana sih Jam.. tapi dari tulisan lo gw tau dia orang yg sangat spesial…

    Doa yang terbaik buat mbak Diana… diberikan tempat terindah disisi-Nya… doa yg terbaik juga untuk lo dan Mbak Tara… yang kuat ya Jam…

    -Ocha-

  20. Jam… gw speechless…

    Gw belom pernah ketemu mbak Diana sih Jam.. tapi dari tulisan lo gw tau dia orang yg sangat spesial…

    Doa yang terbaik buat mbak Diana… diberikan tempat terindah disisi-Nya… doa yg terbaik juga untuk lo dan Mbak Tara… yang kuat ya Jam…

    -Ocha-

  21. Mas bagas….thanks for sharing

    Senin malem sewaktu kerabat mba diana datang kerumah mengabarkan kepergiannya, kami sekeluarga sampai bertanya berkali kali karena masih nggak percaya dan masih berandai berita itu nggak bener.

    Tapi seperti tulisan mas bagas diatas, saya hanya ingin mengingat selama mba diana masih ada & kebersamaan kami. Rumah kami bersebelahan, kami tumbuh besar bersama dan buat saya mba diana sosok yang murah senyum, periang, ramah & pinter. Baru beberapa bulan lalu kami (saya, mba diana dan tara) ngobrol didepan rumah & sharing banyak pengalaman. Tapi ternyata itu untuk yang terakhir kalinya

    Selamat jalan teman kecilku, dr diana mandasari. Semoga tenang & bahagia disana. Semoga tara juga tumbuh menjadi wanita super nan tangguh seperti ibu diana

  22. Walaupun saya tdk kenal mas Bagas, saya ingin menyampaikan turut berduka cita. Saya kehilangan alm suami 5 thn lalu di bulan Maret juga. Jadi sedikit banyak bisa memahami apa yg dirasakan saat ini. This too shall pass mas Bagas.. Melaluinya memang tdk mudah tapi dng ananda Tara disamping mas Bagas dan pastinya dng pertolongan Tuhan mas Bagas akan kuat, sabar dan ikhlas. Semoga mbak Diana sudah mendapat tempatnya yg terbaik saat ini. Aamiin…

  23. Mas bagas,turut berduka cita yg sedalam dalamnya..terkadang rencana besar Tuhan ga pernah mudah kita mengerti,tapi berserah diri di dalam Tuhan selalu jd kekuatan kita.Aku ga kenal sama mba diana tapi dr setiap detail cerita ttg beliau dia orang yg baik hati.aku kenal mas bagas orang yg kuat..semoga tara jd anak yg membanggakan k2 orangtuanya.

  24. Dab, saya Dodi JB’92, tulisan panjenengan sangat menyentuh, Turut berduka cita atas kepergian istri tercinta, yang tabah, semoga alm tenang di sisi Allah Bapa di surga dan panjenengan terus melangkah kuat ke depan bersama malaikat kecilnya. Berkah Dalem selalu

  25. Salam kenal Mas Bagas..saya teman sekantornya Reno. Turut berduka cita ya mas. Semoga tabah dan sabar semua keluarga.
    PS. Tulisan njenengan apik tenan. kulo nganti mbrebes mili.

  26. Bagaaasss…aq shock…baru tahu berita ini…padahal awal Maret aq ingat masih ngobrol ama DiMan ttg dia akan kerja lagi…kami masih share banyak hal,termasuk ttg Tara…tapi Tuhan punya rencana yang lebih baik buat DiMan..Bapa Yesus lebih sayang dia..Turut berduka cita sedalam2nya ya Gas…peluk cium sayang buat malaikat kecilnya Diman, mbak Tara…

    Jesus always bless you and Tara..

  27. Mas Bagas, saya dapat link blog post ini setelah baca postingan di blog Mba Lita.
    Terharu sekali baca tulisan ini… dan lihat foto Mba Diana yang lagi lompat di pinggir kolam itu, she’s so beautiful!

    1. She was the most beautiful girl in the world, Mbak…until Tara came into this world and took over that first position…hahaha…
      Btw, salam kenal Mbak Parahita dan terima kasih sudah membaca… 🙂

  28. Saya kagum akan kekuatan dan ketabahan kalian Mas Bagas dan thank you so much utk tulisan yg manis ini.

    Sdh setahun Kakek saya berpulang dan selama itu pula saya masih berusaha memaknainya, saya blm bisa sekuat Mas Bagas krn seringkali masih menangis sesenggukan bahkan ketika sambil tidur.

    Thank you…saya bisa belajar banyak dari sini, keep writing ya dan salam utk keluarga disana

    Salam kenal dari Banjarmasin 🙂

  29. Salam kenal mas Bagas.
    Saya baru hari ini baca interview mas Bagas melalui tautan seorang teman di FB. Dari sana, sampai di blog mas Bagas dan saya langsung mencari postingan ini.
    Saya seorang ibu dari anak perempuan berumur hampir 3 tahun. Bagian dimana mas Bagas harus menjelaskan ke Tara tentang ibunya dan capture foto momen tersebut, benar2 membuat hati saya hancur. Speechless. Membayangkan jika saya/suami di posisi mas Bagas, entah apakah bisa setegar itu menjelaskan tentang kematian/kehilangan kepada putri kami.
    Semoga mas Bagas dan Tara semakin dikuatkan. May God bless us all.

  30. Bagas,, I am deeply touch and crying as well when I read this beautiful story.
    Kayaknya kamu pernah cerita tentang Mbak Diana pas zaman kuliah dulu. Hehe, lupa-lupa inget..
    Kita ga pernah tau apa rencana Tuhan untuk kita, but you’re right. “This too shall pass.”
    You’ve been so strong! *angkat topi
    And may the beautiful lady sleep tight there.
    Hugs for the cutie Tara!

  31. Mas Bagaas, maaf aku baru tahu hari ini klo istri mas bagas udah ga ada. Kmrn ketemu di playground bahkan aku kira mas bagas lg family time sama anak dan istri..aku nangis baca tulisan ini. Turut berduka ya mas..Pasti mba Diana bangga punya suami kayak mas Bagas..kisses utk Tara :*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s