VERSUS

32527_1382402362417_1302711000_31067230_6566538_n

Pahlawan atau penjahat, benar atau salah, kiri atau kanan, gelap atau terang, protagonis atau antagonis adalah hal yang semata-mata ditentukan oleh sudut pandang.

Menjelang pemilu di Indonesia, di mana hanya ada 2 kandidat tersisa untuk memperebutkan tampuk eksekutif Negara, pemisahan antara 1 dan 2, kami dan mereka, aku dan kamu, Prabowo dan Jokowi adalah suatu hal yang tak terelakkan. Menjadi niscaya juga bahwa satu pihak akan memosisikan pihaknya sebagai protagonis, sementara pihak lain yang berseberangan sebagai antagonis.

Pendukung Jokowi akan mengelu-elukan revolusi mental dalam memberantas semua kebusukan yang merajalela di dunia pemerintahan, tanpa ada sosok superhero ala Batman yang bisa memusnahkan kebatilan terstruktur tersebut. Sementara itu, adalah tak terelakkan untuk menyoroti baik track record sejarah Prabowo yang ada di seberang, sebagai penjahat kemanusiaan, juga orang-orang di belakangnya yang terkait banyak kebusukan terstruktur yang sudah tersebut di atas. Komposisi itu dianggap tidak akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dari saat ini.

Di sisi lain pendukung Prabowo akan mengagungkan visi kebangkitan Indonesia, dipimpin oleh sebuah sosok super karismatik yang memberi harapan bagi bangsa ini untuk berdiri di atas kaki sendiri dan melahirkan rezim terhormat di antara bangsa-banga lain di dunia. Sementara itu, melihat ke seberang, Jokowi akan terlihat sebagai sosok tanpa daya baik secara fisik maupun politik. Figur kurus kering kurang wibawa dengan kepentingan partai yang mengikat tangan dan kaki bagai boneka marionette, tidak bisa diharapkan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa ini.

Saya adalah protagonis, dan mereka antagonis. Ide ini jelas ada di dalam benak setiap Warga Negara Indonesia yang mempunyai hak pilih. Masing-masing dari kita merasa sebagai bagian dari sebuah pasukan yang memimpikan kemenangan besar atas lawannya. Alhasil, berbagai pertempuran kecil terjadi di medan perang-medan perang sosial dalam lingkup terbatas. Obrolan kantor, perbincangan warung kopi dan polemik sosial media. Semua bertempur sendiri-sendiri berpikir bahwa saya benar dan kamu, yang tidak satu suara dengan saya adalah salah. Saya kanan dan dia kiri. Aku Pandawa dan kamu Kurawa.

Padahal belum tentu pertempurannya antara positif dan negatif, Pandawa dan Kurawa, kiri dan kanan, salah dan benar. Kita hanya berada dan menempatkan diri di satu sisi tanpa punya keinginan untuk mengerti dan melihat dari sisi yang berbeda. Atau mungkin sudah punya idealisme sendiri, yang seakan terwakili oleh satu pihak, dan sulit untuk mengerti atau menempatkan diri di pihak lain dengan kacamata mereka, seperti saya.

Tapi jika boleh saya mencoba menempatkan diri di kedua belah pihak, sesungguhnya kedua belah pihak pendukung mempunyai visi untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik dalam konsepnya sendiri-sendiri. Pendukung Prabowo, sudah bosan melihat Indonesia dipimpin oleh sosok-sosok yang cenderung diam dan terkesan tanpa daya dalam berhadapan dengan kebusukan terstruktur di dalam pemerintahan sebagai akibat dari kontrak-kontrak politik, dan juga dalam berhadapan dengan tantangan dan tentangan, baik terselubung maupun vulgar. Pendukung nomor urut 1 ingin seorang pemimpin yang keras, tegas, punya sikap dan tidak takut akan apa pun juga. Ya, sosok impian itu, terepresentasi oleh Prabowo Subianto.

Di pihak lain, pendukung Jokowi, lebih menyoroti pemerintah elitis yang terkesan sebagai makhluk lain yang berbeda dengan rakyat, yang tak tersentuh. Jangankan tersentuh hukum, macet pun tidak. Pemerintah yang hanya bisa beretorika, berjanji tanpa bisa merealisasikan. Pemerintah yang sangat jauh dari jangkauan, sehingga rakyat tak punya kuasa untuk berbuat apa-apa walaupun sudah jelas terpampang kebusukannya yang merongrong Negara. Rakyat yang dengan semangat mengucapkan salam dua jari, jelas memimpikan sebuah keterbukaan, keramahan, kedekatan, kehangatan, ketulusan, kejujuran. Sebuah utopia yang diwakili oleh sosok seorang Joko Widodo.

Kedua perspektif ini, merupakan buah dari ketidakpuasan terhadap penguasa terdahulu. Kedua belah pihak menuntut perubahan. Kedua sisi punya level kecintaan yang sama terhadap tanah air Indonesia. Kedua kubu sama-sama mempunyai visi mengenai Indonesia yang lebih baik, hanya konsep mengenai cara mencapainya yang berbeda, dan berbeda itu sah!

Hanya dalam hitungan jam, sebagian besar rakyat Indonesia yang sudah cukup umur, untuk pertama kalinya akan dengan heroik menggunakan hak coblosnya. Dengan heroik, saya sebutkan karena jika di kesempatan-kesempatan sebelumnya, hak pilih itu digunakan dengan pesimis, kali ini, sebagian besar hak pilih digunakan dengan optimisme, dengan kebanggaan, dengan penuh harapan!

Siapa pun yang menang, demokrasi jelas bermanifestasi dengan indah di Negara ini. Sebenarnya, pertempuran yang terjadi, bukan antara Jokowi di pihak protagonis dan Prabowo di pihak antagonis, atau Prabowo sebagai Pandawa dan Jokowi sebagai Kurawa, pertempuran sesungguhnya adalah ide publik mengenai Indonesia yang lebih baik melawan sebuah situasi busuk terstruktur yang sudah usang jika diletakkan dalam frame masyarakat yang pintar.

Siapa pun yang menang, semoga hanya satu bait yang berkumandang, Hiduplah Indonesia Raya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s