31 Desember 2011 – Sedikit Catatan tentang “Perayaan” di Akhir Tahun

“Apa sih Tahun Baru itu? Kalau bikin resolusi seharusnya bukan hanya tahun baru.”

“Apa sih hari valentine itu? Kalau mau mengekspresikan cinta, harusnya setiap hari.”

“Apa sih ulang tahun itu? Kalau mau merayakan hidup, harusnya jangan setahun sekali.”

Pertanyaan-pertanyaan mengenai konsep dari sebuah seremoni selebrasi dalam kehidupan manusia. Pertanyaan-pertanyaan yang agak kerap saya temui akhir-akhir ini. Saya tidak ingin menyalahkan apabila beberapa orang memandang skeptis masalah seremoni selebrasi ini, karena beberapa pihak kadang memang terlalu larut dalam pestanya, tapi lupa akan esensinya. Beberapa pihak kadang gegap gempita dalam pertunjukannya, tapi lupa akan pesannya. Maka wajar kalau beberapa pihak mencibir perayaan-perayaan ini.

“Mengapa manusia butuh perayaan, atau selebrasi?”

Manusia membutuhkannya karena manusia butuh monumen. Manusia butuh tugu. Manusia butuh simbol. Manusia butuh metafora. Manusia butuh penanda dan manusia butuh penyederhanaan. Ada hal-hal yang harus diletakkan di tempat-tempat tertentu dalam kehidupan manusia sehingga manusia dapat mengingat sesuatu. Diletakkan dalam dimensi ruang ataupun dimensi waktu.

Monas, Monjali, Patung Pancoran, Tugu Khatulistiwa, Merlion, Menara Eiffel, Patung Liberty adalah monumen-monumen ruang. Tahun baru, Ulang tahun, Natal, Idul Fitri, Valentine, Hari Ibu, Hari Pahlawan, Hari Sumpah Pemuda adalah monumen-monumen waktu.

mg_9437-copy

Memang,manusia bisa mencintai, merayakan hidup, beresolusi, berevaluasi, merenung, berpesta atau meminta maaf setiap hari. Tapi untuk memberi semua itu porsi yang sama setiap hari tidaklah mungkin. Manusia akan kehilangan kesempatan untuk memaknai konsep hidupnya jika itu dilakukan. Oleh karena itu, manusia butuh monumen.

“Apakah manusia benar-benar butuh monumen?”

Tentu saja manusia butuh monumen, dalam perjalanan panjang memaknai konsep hidup masing-masing, manusia butuh diingatkan kembali. Memfokuskan energy, alam afeksi dan kognisinya untuk satu hal dan merayakannya. Dengan merayakannya manusia jadi ingat bahwa hal tersebut adalah spesial.

Contohnya di hari Lebaran, hampir semua orang di Indonesia mengalokasikan energinya untuk saling memohon maaf dan bersilaturahmi satu sama lain. Bisakah itu dilakukan tiap hari? Bisa saja. Mungkinkah dilakukan tiap hari? Mungkin saja. Tapi apakah “meminta maaf” dan “bersilaturahmi” menjadi sesuatu yang spesial kalau sudah menjadi rutinitas? Saya ragu.

Paralel dengan seorang fotografer yang tidak akan menganggap memotret sebagai sebuah hal yang luar biasa, karena sudah menjadi rutinitas. Tapi memasak akan menjadi hal yang istimewa karena itu keluar dari yang dijalaninya setiap hari. Ada kegairahan baru dalam hal baru, ada adrenalin yang terpacu saat menjalani sesuatu yang berada di luar rutin, ada kegembiraan dalam melakukan suatu hal yang istimewa.

Di perayaan tahun baru, kebanyakan orang mengalokasikan energinya untuk mereview apa yang sudah terjadi selama setahun ke belakang dan membuat janji-janji dalam bentuk resolusi untuk setahun ke depan. Mungkinkah dilakukan dalam siklus 24 jam? Mungkin saja. Tapi apakah itu akan menjadi suatu hal yang spesial? Mungkin tidak. Karena menjadi rutinitas dalam jangka waktu pendek, tidak lagi ada muatan gairah dan adrenalin yang cukup besar untuk menjadikannya spesial.

Manusia butuh monumen untuk memberi nilai lebih terhadap sebuah hal yang biasa tapi penting.

Ya, menurut saya, jika anda berada dalam sebuah monumen, baik ruang atau waktu. Alami, rasakan, dan hayati apa yang ada di dalamnya. Ingat dan Rayakan! Karena tidak setiap saat anda berada di dalam titik-ingat itu.

Ingat dan Rayakan! Bukan hanya “Rayakan” saja. Karena saat anda merayakan tanpa mengingat, anda akan kehilangan esensi dari monumen yang sedang anda rayakan itu. Akan tetapi memang manusiawi untuk lupa.

Kalau anda merayakan dan anda lupa… Well, Shit happens, but life goes on!

Good Bye 2011 Hello 2012

Iklan

Satu pemikiran pada “31 Desember 2011 – Sedikit Catatan tentang “Perayaan” di Akhir Tahun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s