Babe Gue Bukan Sembarang Babe

I’m just saving this writing I made like 5 years ago, because the one on FRIENDSTER blog was erased. It means a lot for me.

BABE GUE BUKAN SEMBARANG BABE

Begitu tulisan yang tercantum di sebuah pin yang saya buat sekitar setahun yang lalu dan saya berikan kepada bapak saya, tanpa ada tujuan dan maksud apa pun juga. Entah kemana nasib si pin yang saya buat itu, yang saya tahu bapak saya sekarang sudah tidak ada lagi di rumah. Bukan pergi seminggu atau dua minggu untuk ngajar seperti biasanya, tapi untuk selamanya.

Siang itu Minggu, 2 Juli 2006 pukul 1 siang, saya bersiap-siap untuk mengantarkan saudara sepupu saya yang sedang berlibur ke jogja. Maklum liburan, jadi memang banyak orang kembali ke kampung halamannya. Dompet sudah saya kantongi, kunci mobil sudah saya genggam, ketika Om saya datang ke rumah dan berkata pada Ibu saya, “Bude…Pakde (Om saya biasanya membahasakan Bapak dan Ibu saya Pakde dan Bude) itu katanya nggak bisa dibangunin dari tadi pagi…”

Memang saat itu Bapak sedang berada di rumah Om saya di Pekayon, rencananya besok dia berangkat ke Palembang untuk ngajar, transit satu malam di Bekasi setelah kemarinnya bermalam sehari di rumah di Jogja. Seketika pikiran saya berasosiasi ke kemungkinan terburuk dari interpretasi yang bisa dihasilkan dari kata-kata itu: Bapak saya dipanggil Tuhan. Seketika ibu menjadi panik, dan langsung menelepon rumah om saya itu di pekayon, kekhawatiran saya itu ternyata benar. Ibu berteriak histeris, adik saya menangis, lidah dan seluruh badan saya mendadak kaku. Tak bisa berkata apa-apa, tak bisa menangis, berusaha memahami keadaan: Bapak saya dipanggil Tuhan.

Ya sudah, bapak saya sudah kembali ke tempat yang lebih baik, saya tidak akan melanjutkan pembahasan mengenai bagaimana Bapak saya meninggal. Katanya sih kena serangan jantung, kenapa? Apakah karena adu penaltinya Inggris vs Portugal yang luar biasa mendebarkan, karena kebiasaan buruk menghisap nikotin dan kafeinnya yang parah, atau karena sate jeroan dan nasi uduk yang dimakannya sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya. Itu semua menjadi kurang penting karena satu kenyataan yang sudah pasti bahwa: Bapak saya dipanggil Tuhan.

Begitu mendadak, begitu tiba-tiba. Yang datang ke layatan selalu bertanya: bagaimana bapak meninggal, pake baju apa, ada firasat apa. Standar lah…Saya menjelaskan dan mesti mengulangi mungkin sampai saat ini sudah 40 kali, tapi saya tidak akan berusaha mengingat bagaimana dia meninggal, saya ingin mengingat bagaimana dia hidup!!! Dia adalah seseorang yang penuh integritas, jujur, tak pernah berbuat curang, tidak pernah selingkuh, penuh canda tawa, praktis, sederhana, tegar, tekun, cerdas, berdedikasi tinggi dan dicintai banyak orang. Bapak saya yang saya kenal adalah orang yang sangat “hidup” (tanpa harus dibikin lebih hidup). Saya dan adik-adik kemudian tidak mau memasang lagu-lagu requiem saat penyemayaman jenasah bapak saya di rumah. Lagu-lagu requiem itu hanya membuat suasana menjadi tipikal layatan. Lagu-lagu requiem hanya akan membuat kami lebih sedih, dan saya yakin bapak tidak ingin melihat kami sedih. Musik yang saya putar kemudian antara lain lagunya Nat King Cole (Unforgetable), Paul, Peter and Mary (Puff The Magic Dragon), dan Lighthouse Family (Lost In Space), lagu-lagu yang menurut bapak saya bagus. Hehe…memang kemudian banyak orang-orang tua mencak-mencak, tapi saya tak ambil pusing. Saya kenal bapak saya dan saya ingin mengingatnya seperti itu.

Banyak yang sudah Bapak jalani dalam hidup. Yang pasti lebih dari yang saya tahu. Lebih dari berpuluh-puluh karangan bunga yang memenuhi gang masuk rumah kami. Lebih dari 24 tahun dedikasi total untuk istri dan anak-anaknya. Lebih dari nasihat, saran dan apa pun juga yang dia berikan kepada entah klien, teman sejawat, dan keluarga besarnya.  Lebih dari sekedar training, ceramah, retret, khotbah yang pernah ia ucapkan. Lebih dari rangkaian kata yang bisa tercantum dalam buku-bukunya (yang paling baru sudah terbit lho…judulnya Smart Parenting). Yang kami tahu, apa yang dia ajarkan selama jenjang hidup kami yang masih pendek ini, cukup untuk kami untuk menjalani hidup tanpa dia, sedangkan cinta yang dia berikan lebih dari cukup untuk kami untuk hidup tanpa dia.

Berbicara di depan umum telah menjadi hidupnya selama bertahun-tahun, makanya dia ingin anak-anaknya memberikan pidato saat hari kematiannya. Tugas itu sudah kami lakukan dengan baik. Saya dan kedua adik saya (Reno, 21 dan Yoyok,14) berhasil memberikan pidato-pidato pendek tanpa terputus tangis, kami harap itu bisa membuat beliau bangga. Kami bisa tegar sampai akhir pidato, seperti bapak tegar menjalani hidup ini. Tegar saat harus membanting tulang sembari mengakrabi kesendirian. Sering dia mesti jauh dari cinta keluarga selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk mencari penghidupan demi kelangsungan hidup keluarganya. Di tengah sendiri pula dia dengan hebat tetap berpegang pada kesetiaannya yang luar biasa pada istri dan anak-anaknya. Di akhir hayatnya pun dia sendiri, tanpa teman dan keluarga di sisinya. Kesendirian yang sudah biasa dihadapinya. Mungkin kami, keluarga dan teman-teman agak menyesal mengapa dia harus meninggal sendirian seperti itu. Tapi saya yakin itu cara Tuhan yang terbaik untuk bapak saya yang merupakan cara yang sudah dikenal baik oleh bapak, sendiri! Dia meninggal cepat dan semoga tanpa rasa sakit berkepanjangan.

Terima kasih Tuhan, Kau ambil bapakku dengan cara yang paling melegakan. Terima kasih juga untuk semua pihak yang sudah sangat membantu dalam mengusahakan perlakuan yang layak bagi bapak saya setelah meninggal. Menguruskan peti, menguruskan rumah sakit, mendandani dan memandikan bapak saya, menyediakan konsumsi, mencarikan pastor, memimpin ibadat sabda, berurusan dengan pihak yang berwajib, dan banyak detail lain yang tak mungkin tersebutkan di sini. Saya juga tidak bisa menyebutkan satu per satu siapa-siapa saja yang berperan di sini karena semuanya sungguh sangat berarti. Kami tak bisa berbuat apa-apa selain ucapan terima kasih yang teramat besar dengan tulus kepada anda semua, Tuhan yang tahu kebaikan anda dan Tuhan yang akan membalasnya. Saya juga ingin meminta maaf atas segala kesalahan dalam bentuk perilaku dan perkataan yang pernah bapak saya lakukan, karena dia hanya seorang manusia.

Manusia yang menangis saat lahir sementara orang-orang di sekitarnya tersenyum, menjalani hidup dengan tangis dan senyum, dan tersenyum saat meninggalkan orang-orang yang menangis di sekitarnya. Bapak saya telah menjalani hidupnya dengan luar biasa dan menutupnya dengan cara yang luar biasa pula, BABE GUE BUKAN SEMBARANG BABE.

Kristoforus Aryo Bagaskoro,

Putra pertama dari Georgeus Tembong Prasetya (18 April 1950 – 2 Juli 2006) dan Agatha Ami Kunhidayati. Kakak dari Fransiska Reno Dwi Hapsari dan Bernardino Realino Suryo Hapsoro

Iklan

Satu pemikiran pada “Babe Gue Bukan Sembarang Babe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s